Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Bogor

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Bogor

Pura Parahyangan Agung JagatkarttaMinggu,  29 Juli 2012, rombongan Yayasan Gentra Pajajaran Bogor, berziarah ke Pure Parahyangan Agung JagatKarta, di Desa Taman Sari, Gunung Salak Bogor. Rombongan Gentra Pajajaran yang dipimpin oleh Wakil Bupati Bogor: H. Karyawan Faturahman, SH, M.Hum, diterima oleh  I Gusti Bagus Wirya, Ketua Pembina Yayasan Giri Taman Sari, yang menaungi Pure tersebut.

Ceuk Jro Mangku Gde Darsa ti Pura Parahyangan Jagadkartta, geus wayah urang Sunda mingpin.

“Kunjungan perjalanan dan ziarah kami ke Pure Parahyangan Agung ini, adalah dalam rangka bersilaturahmi dan menelusuri jejak sejarah serta mengumpulkan kearifan warisan ajaran para leluhur Tatar Sunda, demi memperbaiki krisis moral-etika sebagian warga bangsa kita dan menata masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang, dengan memperkuat falsafah-ideologi Pancasila dan Persatuan NKRI.”, ungkap Karyawan Faturahman.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Pure Parahyangan Agung Jagatkarta ini memang unik, karena dibangun oleh komunitas umat Hindu asal Bali dalam rangka menghormati situs petilasan eyang Prabu Siliwangi. “Berawal dari adanya salah seorang umat Hindu Bali yang ketika berhening-hening di Gunung Salak, menemukan sebuah “Kujang”, senjata khas Sunda Kuno. Setelah dikonfirmasi kepada beberapa pendeta Hindu Bali, diyakini bahwa Kujang itu adalah peninggalan Prabu Siliwangi, Raja  dari Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang beribukota di Bogor.”, demikian ungkap I Gusti Bagus Wirya, pensiunan perwira tinggi AURI, yang kini mengelola Pure Parahyangan Agung Jagatkarta tersebut.

“Oleh karena itulah di sini kami membangunkan  candi untuk menghormati dan mengagungkan Prabu Siliwangi.” lanjut I Gusti Bagus Wirya.  “Model candinya, kami mencontoh dari Candi Cangkuang di Garut, yang juga merupakan peninggalan Eyang Prabu Siliwangi. Pada zamannya, Prabu Siliwangi adalah seorang Guru Wisesa yang sangat agung, bijaksana dan adil, yang dapat kita contoh keteladanan kebijaksanaan dan keadilannya. Saya sangat kagum dengan keteladan dan kepemimpinan guru wisesa Eyang Prabu Siliwangi. Bagaimana beliau sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, misalnya ini terlihat dengan tradisi budaya ‘Seren Taun‘, pembangunan sistem kanal irigasi, dll, yang merupakan ritual dan upaya untuk memperkuat ketahanan pangan Rakyat Sunda Pajajaran.”, ungkap menantu salah seorang pendiri SMAN Negeri 1 Bogor ini.

Sementara Ahmad Yanuana Samantho, yang ikut mendampingi Wabup Bogor beserta team Gentra Pajajaran, memanfaatkan kunjungan ziarah ini untuk melakukan penelitian pendalaman dan verifikasi atas temua peneliti asing yang menyimpulkan adanya hubungan genealogis (persaudaraan) antara peradaban Bali Kuno dengan peradaban Indian Maya di benua Amerika Tengah. Keduanya adalah anak kembar dari induk peradaban Dunia yaitu Atlantis di Nusantara. Sementara, berdasarkan informasi yang dapat dipercaya, raja Bali pertama adalah raja yang dikirim dari Tatar Sunda.

Terdorong oleh berbagai informasi menarik inilah maka Ahmad Yanuana Samantho, penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara, melakukan penelitian observasi ke Pure Parahyangan Agung JagatKarta di Gunung Salak, yang dibangun oleh Umat Hindu Bali. Ketika dikonfirmasi mengenai wacana peradaban kembar ini, Pak I Gusti Bagus Wirya, membenarkannya dan menambahkan informasi berdasarkan pengalamannya dan temuan-temuannya selama menjadi penerbang AURI yang pernah terbang keliling dunia. Dan bahkan beliau menemukan jejak-jejak peradaban Jawa-Bali di kepulauan Guam dan Hawai di Samudra Pasifik.  Rencananya berbagai informasi tentang Peradaban Nusantara Kuno sebagai Induk Peradaban Dunia ini akan dibukukan dan diterbitkan.***   (Laporan Ahmad Yanuana Samantho, 4 Agustus 2012)

File:Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Candi Siliwangi Shrine.jpg

Candi Eyang Prabu Siliwangi di Pure Parahyangan Agung Jagatkarta

Berikut ini informasi tambahan mengenai Pure Parahyangan Agung Jagatkarta. Oleh Bambang Aroengbinang . Bogor . 28 July, 2012 . 491 Lihat

Pura Parahyangan Agung JagatkarttaPura Parahyangan Agung Jagatkartta konon merupakan candi Hindu terbesar di luar Pulau Bali, setelah Pura Besakih. Meskipun saya pernah melewati jalan ke tempat itu sekitar pertengahan tahun lalu, namun mengetahui keberadaan pura ini baru beberapa minggu lalu dari seorang teman dekat, dan mengunjungi tempat yang indah itu minggu lalu.

Getok tular, dari mulut ke mulut, masih merupakan salah satu cara promosi (atau demosi) terbaik untuk suatu tempat, atau hampir semua yang lain. Pura Parahyangan Agung Jagatkartta adalah tempat yang layak anda kunjungi jika kebetulan berada di sekitar kota Bogor.

Pura ini terletak di Kampung Warungloa RT 03/09, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, di lereng Gunung Salak, sekitar 13km dari Bogor, arah ke selatan.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta
Pemandangan cantik di sekitar rumah yang berada di lereng sebuah bukit, diambil dari jalanan menuju Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Seorang pekerja wanita tampak tengah membersihkan jalan menuju ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartta. Jarak dari jalan utama ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartta adalah sekitar 1 km, melewati jalanan yang agak terjal. Percabangan dari jalan utama ada pada koordinat satelit -6° 39′ 28.04″, +106° 44′ 3.98″.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Tiga pintu gerbang pada tingkat ketiga di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, yang bernama Kori Agung, memisahkan bagian tengah dan bagian utama Candi. Saya tidak melihat struktur pintu gerbang Candi Bentar yang tinggi, yang memisahkan bagian luar dengan bagian dalam candi.

Pintu gerbang bagian tengah dibuka hanya ketika Pura Parahyangan Agung Jagatkartta menyelenggarakan acara besar seperti Galungan (pada tanggal 12 Mei tahun ini), Piodalan (bahasa Bali untuk acara ulang tahun, tahun ini jatuh pada 12 Agustus), atau ketika para Sulinggih (pendeta) dari pura lain datang berkunjung untuk mengambil air suci dalam rangkaian Piodalan di Pura mereka.

Pura Parahyangan Agung JagatkarttaPatung Ganesha yang terletak di bagian tengah Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta
Dua arca naga dengan ukiran yang sangat indah menjagai pintu utama Kori Agung di bagian dalam Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta
Ukiran kepala naga bermahkota dari jarak yang lebih dekat.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta
Ukiran batu pada dinding utama Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Sebuah bale yang terletak di bagian utama Pura Parahyangan Agung Jagatkartta. Satu-satunya agar anda bisa masuk ke bagian dalam Pura Parahyangan Agung Jagatkartta jika sedang tidak berlangsung acara adalah dengan bersembahyang atau bersamadi di sana, menurut agama yang anda anut.

Penjaga tidak memperbolehkan anda masuk jika hanya untuk melihat suasana dan memotret. Saya melakukan meditasi selama sekitar 10 menit, dalam suasana hening yang diisi oleh suara desir angin dan kicau burung. Sungguh menyegarkan jiwa. Tempat di mana saya duduk, ada pada koordinat satelit -6° 40′ 10.52″, +106° 44′ 7.58″.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta
Naga dengan ukuran lebih kecil namun tetap terlihat indah, berada di atap sebuah bangunan di bagian dalam Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Sebuah pemandangan yang mempesona dari bagian utama ke bagian tertinggi Pura Parahyangan Agung Jagatkartta yang tertutup untuk umum.

Rangkaian acara Ngenteg Linggih (upacara peresmian) Pura Parahyangan Agung Jagatkartta dimulai pada 19 Agustus 2005; sedangkan puncak acaranya diselenggarakan pada 18 September 2005, pada saat Purnama Ketiga, dan berakhir pada 29 September 2005. Cikal bakal Pura ini sudah didirikan pada 1995, di lokasi yang konon merupakan tempat suci, dimana terletak petilasan Siliwangi, Raja terbesar Kerajaan Padjajaran.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Kampung Warungloa RT 03/09, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, di lereng Gunung Salak, sekitar 13km dari Bogor, arah ke selatan.
GPS: -6.66959,106.73544

Wisata Terdekat

Curug Nangka (2,5 km) | Curug Luhur (7,4 km) | Pabrik Gong Pancasan(11,4 km) | Makam Raden Saleh (11,9 km)

Terkait Bogor
Hotel Bogor | Kuliner Bogor | Peta Wisata Bogor | Wisata Bogor

Tentang Bambang Aroengbinang

Bambang Aroengbinang

Tinggal di Jakarta, pejalan musiman, senang pergi ke situs-situs dan tempat bersejarah.
Telah menerbitkan 452 tulisan sejak March 2010. Lihat tulisan lain , atau lihat penulis lainnya.

Pura Parahyangan Agung Jagattkarta

‎”Saya bangga mempunyai Raja Padjadjaran,yang sangat dihormati juga oleh para umat Hindu dan Pendeta di Pura Parahayangan Agung Jagattkarta ini. Di bangunnya pura Salak di daerah ini memang bukan tanpa alasan.

Konon di tanah inilah Prabu Siliwangi sang Raja Padjadjaran yang membawa kemasyuran bagi tanah Sunda pernah berdiam. Bahkan ada yang percaya di tempat ini Prabu Siliwangi menghilang bersama para prajuritnya. Hingga akhirnya sebelum membangun pura, umat Hindu lalu memutuskan untuk membangun terlebih dulu candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam. Sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Padjadjaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan.
Pura Gunung Salak , Pengakuan Riwayat Padjadjaran Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat di Desa Taman Sari, Lereng Gunung Salak, umat Hindu Bali berdatangan dari berbagai pelosok tanah air untuk menjadi saksi hidup resminya pura Gunung Salak, pura terbesar di Pulau Jawa.
Masa penantian selama 10 tahun untuk membangunnya, kini berakhir. Pura ini akan resmi menjadi tempat ibadah kaum Hindu melalui upacara Menungkah dan Ngenteg Linggih. Berdirinya sang pura di Gunung Salak ini bukan tanpa alasan. Karena di sinilah konon kerajaan Hindu tanah Sunda yang termasyur pernah berdiri. Kerajaan Padjadjaran dibawah pemerintahan Prabu Siliwangi.
Akses jalan dari kaki Gunung Salak menuju pura sudah diperlebar. Sehingga kendaraan kami bisa mencapai pura dengan mudah.Namun karena banyaknya umat yang akan datang untuk mengikuti upara Ngenteg Linggih atau peresmian pura, panitia mengharuskan seluruh kendaraan parkir jauh dari areal pura. Sehingga banyak umat yang harus berjerih lelah berjalan kaki menuju pura.
Begitu juga dengan kami. Di tempat ini pak Made Santika dan pak Mangku Made Yatnawiguna menyambut kami sambil memberi penjelasan seputar pura dan upacara Ngenteg Linggih atau peresmian pura yang akan dilakukan besok. Dirintis sejak tahun 1995, pembangunan pura ini merupakan hasil kerja gotong royong umat. Memang belum semua bagian selesai dikerjakan. Namun bangunan pura utama, seperti Pura Padmesana dan Balai Pasamuan Agung dan Mandala Utama segera selesai.
Rencananya pura Gunung Salak ini akan terdiri dari empat area. Misalnya area utama Ning Mandala yang merupakan area suci hingga hanya para pemangku agama yang bisa menjejakan kakinya.Bangunan penting lain adalah Padmesana yang merupakan tempat persemayaman Tuhan serta Balai Pasamuan Agung. Di bangunnya pura Salak di daerah ini memang bukan tanpa alasan.
Konon di tanah inilah Prabu Siliwangi sang Raja Padjadjaran yang membawa kemasyuran bagi tanah Sunda pernah berdiam. Bahkan ada yang percaya di tempat ini Prabu Siliwangi menghilang bersama para prajuritnya. Hingga akhirnya sebelum membangun pura, umat Hindu lalu memutuskan untuk membangun terlebih dulu candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam. Sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Padjadjaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan.
Menjemput Melasti Belum ada literatur yang bisa memastikan kapan agama Hindu masuk ke wilayah Jawa Barat. Tapi setidaknya telah ditemukan sejumlah bukti peninggalan Kerajaan Hindu di Jawa Barat yakni Tarumanegara dengan rajanya yang terkenal Purnawarman.
Sebagian peninggalan itu diantaranya kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Jejak kaki sang raja bahkan tercetak pada sebuah batu yang lalu dikenal sebagai prasasti Ciaruteun. Jejak kaki Raja Purnawarman ini diibaratkan seperti telapak kaki Dewa Wisnu, salah satu dewa umat Hindu. Di Museum Nasional juga terdapat prasasti Tugu. Prasasti Hindu tertua yang ditemukan di Pulau Jawa. Dalam prasasti Tugu yang diperkirakan berasal dari tahun 450 Masehi ini misalnya, penunjukkan Prabu Purnawarman dari Tarumanegara pernah memerintahkan penggalian saluran terusan sungai dari Bekasi ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk sistem pengairan dan membuka jalur pelayaran ke pedalaman.
Pada akhir abad ke VII, Kerajaan Tarumanegara diduga hancur takluk pada Kerajaan Sri Wijaya. Baru pada awal abad ke 14 hadir kembali Kerajaan Hindu Sunda yang cukup kuat dibawah kepemimpinan Prabu Siliwangi. Yakni Kerajaan Padjadjaran dengan ibukotanya terletak disekitar Pakuan yang kini dikenal sebagai kota Bogor. Sayangnya, tidak banyak yang ditinggalkan sang Prabu Sri Paduga Maharaja. Kebanyakan justru tentang mitos yang masih dipercaya hingga kini walau ratusan tahun sudah berlalu. Seperti kemampuannya untuk menghilang atau muksa. Berbagai kesaktian sang prabu ini pula yang jadi latarbelakang berdirinya pura di Gunung Salak.
Konon, dulu sering ada hal-hal gaib yang terjadi di wilayah ini yang berhubungan dengan Prabu Siliwangi, raja masyur dari Kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat. Pendirian pura di Gunung Salak yang dipercaya sebagai petilasan Sri Paduga Maharaja Prabu Siliwangi, bukan hanya membawa kegembiraan bagi para umat Hindu.
Warga sekitar juga seperti kecipratan berkah. Aneka dagangan terutama yang berkaitan dengan ritual agama Hindu seperti bertebaran. Keadaan semakin ramai menjelang peresmian pura. Keramaian dilokasi pura ini sebetulnya sudah berlangsung jauh sebelumnya. Sejumlah ritual pendahuluan telah dilaksanakan.
Dan memasuki puncaknya pada hari ini. Semua persyaratan perlengkapan upacara dikerjakan ratusan umat Hindu. Mereka ini datang dari berbagai daerah bekerja, bergotong royong tanpa pamprih. Nayah demikianlah sebutannya. Tidak heran kenapa mereka merasa antusias. Ini adalah peristiwa yang sakral dan juga jarang terjadi. Upacara seperti ini hanya dilakukan sekali saja saat pendirian sebuah pura. Apalagi pura ini berstatus pura Penatara Agung dengan kedudukan pura sebagai pengepon jagad. Untuk seorang seperti Ketut Mandre beserta rombongan yang datang dari Karangasem, Bali dengan biaya sendiri, inilah saatnya mereka membaktikan diri.
Dengan keahlian mereka membuat caru atau qurban dari hewan kerbau dan kijang sebagai syarat untuk upacara. Tidak hanya dari pulau Bali. Juga ada rombongan petani dari Lampung Tengah, Kabupaten Tulang Bawang yang sudah sepekan ada ditempat ini. Seperti ibu Parmi yang membawa serta putra putrinya untuk ikutan ngayah. Suasana semakin ramai. Puncak Karya Ngenteg Linggih akan berlangsung esok hari. Umat Hindu terutama dari wilayah Jabotabek baik yang tua kaum muda dan juga anak-anak terus berdatangan. Mereka tidak ingin ketinggalan mengikuti upacara peresmian pura. Hari ini warga Hindu yang berada di Gunung Salak akan menyambut rombongan yang melakukan melasti atau penyucian sarana pemujaan dan penyucian diri di laut. Rombongan melasti yang akan dijemput itu berangkat dari Pura Segara, Cilincing, Jakarta Utara dan Pelabuhan Ratu.
Sebagian warga yang turun gunung semua bersuka cita menyambut rombongan yang membawa para betara yang disimbolkan dalam daksine pelinggih serta berbagai macam banten atau sesajen. Mereka dijemput, dibawa menuju Pura Gunung Salak. Seluruh perangkat upacara diletakkan di balai. Saatnya persiapan serta penyucian tempat dan perangkat upacara. Suasana bersuka terasa dominan terutama saat menunggu para pemangku dan pandite menyiapkan upacara. Tapi ketika saat tiba berdoa suasana berubah hening. Upacara ini berakhir dengan dibawanya seluruh banten dan daksine pelinggih ke balai Pasauan Agung di Utama Ning Mandala melewati kori Agung. Seluruh umat kembali memanjatkan doa untuk kelancaran karya utama esok hari. Hujan Pun Turun Hari ini akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi umat Hindu. Mereka akan memiliki sebuah pura utama di Gunung Salak.
Pura Parahyangan Agung JagatkartyaTaman Sari Gunung Salak, demikianlah namanya sesaat lagi akan diresmikan. Upacara Ngenteg Linggih bertujuan untuk membangun pelinggih, mensakralkan dan melaksanakan ide sang yang widi wasa dan manivestasi-manivestasinya sehingga bangunan tersebut memenuhi syarat sebagai niase atau tempat pemujaan. Seluruh sesajen yang ditandu diturunkan untuk dibersihkan. Nantinya tempat yang belum rampung ini akan menjadi pemandian atau tempat pembersihan. Upacara ini sebagai ungkapan seluruh umat merendahkan diri kepada Yang Kuasa.
Tarian Rejang Dewa kembali memimpin pawai menuju pura. Iring-iringan kembali memasuki area Mandala Utama. Hari ini yang datang lebih ramai. Sehingga area Mandala Utama tidak bisa menampungnya. Banyak yang akhirnya terpaksa menempati posisi diluar area pura utama. Sambil menanti saatnya berdoa, tarian Topeng Sidekarya menjadi hiburan tersendiri. Selain itu juga ada keelokan tari Rejang Dewa yang merupakan tari sakral dilakoni gadis remaja masih suci.
Tarian ini bertujuan mengundang dewa dan dewi dari langit agar hadir menyaksikan prosesi ini. Tirta atau air suci yang dipercikan para pemangku kepada jemaat menandakan saat berdoa akan segera dimulai. 10 pedange akan memuput upacara ini. Kini saatnya seluruh batare diturunkan lagi lalu membentuk barisan pawai, kembali turun ke luar pura utama.
Ritual ini menyimbolkan para batare meninjau tempat. Belumlah upacara usai, hujan turun dengan lebat. Kondisi yang umum terjadi di Bogor yang memang dikenal sebagai kota hujan. Tapi hujan kali ini dianggap berkah tersendiri untuk upacara Ngenteg Linggih. Hujan di puncak acara dipercaya mengambarkan limpahan berkah akan tercurah bagai hujan yang lebat. Karena itulah walau hujan lebat upacara tetap berlangsung. Ritual yang dilakukan di Balai Peselang ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang diberikan kepada umat.
Akhirnya seluruh upacara puncak hari ini usai digelar. Kini pura ini resmi menyandang nama Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari Gunung Salak. Wujud pengakuan akan sejarah yang mewarisi ajaran leluhur sambil terus berupaya mengamalkannya secara benar sesuai agama Hindu

2 responses to “Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Bogor

  1. wisata terdekat;vila mongol
    THE HIGHLAND PARK RESORT FIVE STAR BOGOR

  2. http://www.wisatanews.com bisa jadi ruang bersama dalam membangun kebersamaan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s