Kualat bagi Perusak Situs Kabuyutan Prabu Siliwangi Pakuan Pajajaran (simbol MONOTEISME NUSANTARA)

Subhanalloh Mamang baru ngeuuuuh… Allohuakbar… Gusti Alloh Ora Sare!!

Believe or not… Tapi kok Matching sekali ya.

Situs Kabuyutan Siliwangi Pajajaran ada Menhir Simbol Ketuhanan Yang Maha Esa di Bukit Badigul Rancamaya tahun 92 – 93 dihancurkan oleh Cecep Adireja dengan beking Rukmana, Mertua Tutut kaitannya ke Suharto juga jaman Orde Baru. Tidak lama setelah itu Cecep Tumbang usahanya hancur Hotel Salak Mangkrak, tahun 96 Indonesia mulai bermasalah. Krismoooooon mulaiiii deh. Tahun 98 Suharto Lengser Dipermalukan oleh seluruh Rakyat Indonesia.

Lokasi Situs Badigul Persis di Deket Istananya Hartati Murdaya kata temen Mamang yg asli Bogor, ahaaaaaa sekarang Hartati Murdaya sedang kena batunya ditangkap KPK kena kasus korupsi. Gusti Alloh Ora Sare!!!

Situs Kabuyutan Jatigede juga sama mau ditenggelamkan ada 25 situs lebih yang mau dihancurkan, Kementrian PU mengumumkan 1 Oktober akan mulai digenangi, eeeeeh ngak lama kemudian Tokoh Kebanggaan Sunda ditangkap KPK, Dada Rosada, Edi Siswadi juga ditangkap KPK, dan baru baca barusan di PR Headline-ny RUPIAH TERUS MELEMAH. Siap-2 saja Indonesia kalau berani menghancurkan dan menenggelamkan Bisa Krismon dan Kena Bencana lagi, seperti Tahun 1997- 1998. Para Pejabat yang Membiarkannya siap-2 saja hehehe. Ngak percaya nanti kita Buktikan… Ngak lama Kok, Suharto aja tumbang ngak sampe 10 tahun sejak kasus Rancamaya.

Itulah Tanda-tanda Kebesaran Alloh SWT barang siapa yang merusak dan mengganggu Alam ~ Kabuyutan Simbol Ketuhanan Yang Maha Esa maka rasakan akibatnya.

Pama ya mal miskola darotin hoiroy yaroh… Wa ma ya mal miskola darotin saroy yaroh (y).

Untuk yang Ingin Menyelamatkan Bangsa Ini dari Kehancuran mari kita tolak Penenggelaman Situs Kabuyutan Jatigede, kunjungihttp://jatigede.org/wp/?page_id=22

Indonesia saatnya Bangkit jadi Bangsa yang besar, bangsa yg menghargai sejarahnya (y).

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

Petisi Penolakan

Alhamdulillah ternyata masih ada orang yang peduli terhadap kelestarian Hutan dan Sumber Pangan Berupa Lumbung Pangan Indonesia ternyata Petisi Pembatalan Jatigede sudah ada yang buat dan sedihnya baru ada 2 orang yang sign :( (. Nuhuuuns Teh Lim Mei Ming, Urang Bandung… Juara euy. Mamang malah lebih seneng dari pada dijadiin bendungan mending dijadiin Hutan Konservasi dan Lumbung Pangan Nasional, Saluran Irigasi dibenahi, Kampung Kabuyutan Di Revitalisasi, Kearifan Local Tetap Terjaga dan Harmony/ Keseimbangan Dunia Akhirat Insya Alloh terjaga :) .

http://www.change.org/id/petisi/presiden-sby-gubernur-ahmad-heryawan-menteri-pu-djoko-kirmanto-batalkan-pengisian-air-jatigede-hanya-untuk-mengusir-masyarakat-setempat#

Berikut ini Article Mengenai Jatigede di Facebook-nya Teh Lim Mei Ming☺. Juga setelah Article Kang Mei ada juga tulisan Dr. Nina Herlina LUBIS dari UNPAD… @Bang Ian (Rusdian Lubis) ternyata selain ada PAKPAHAN yang Nyunda ada juga nih LUBIS yang NYUNDA banget yang menghimbau untuk melestarikan 25 situs Kabuyutan Jatigede berupa Hutan Keramat dengan Pohon-2 yang sangat besar dan Sumber Mata Air.

Dengan struktur tanah yang cenderung rapuh dan luruh, lokasi bendungan Jatigede tidaklah cukup tepat dan tidak menjamin keselamatan dan keberlanjutan pembangunan. lagipula kawasan Priangan Timur pun semakin sering dilanda gempa, tanah retak, longsor. Sebagai bagian Ring of Fire yang semakin aktif, lempeng Euroasia-Australia yang rentan sudah bertahun2 belakangan memicu banyak gempa dan tsunami.

Waduk yang dirancang terbesar kedua nasional ini berada di lokasi rawan gempa. Hasil penelitian Ir. Sobirin dari DPKLTS menunjukkan titik bendungan terletak di zona pusat gempa (episentrum) Purwakarta-Subang-Majalengka-Kuningan-Bumiayu, tepatnya di wilayah sesar pada koordinat 108o5’45”BT & 6o51’30”LS. Gempa bumi sudah digenapi pada 1912 dan 1990. Masalahnya, pembangunan bendungan besar di dekat episentrum justru akan memicu gempa bumi. Hal ini sudah disepakati di China ketika gempa Sichuan terjadi pada 2008, penelitian dan perdebatan ilmiah selanjutnya membuktikan gempa yang menewaskan minimal 69.000 orang tersebut dipicu oleh bendungan Zipingpu dekat episentrum di Sungai Min, anak Sungai Yangtze.

Namun kemajuan ekonomi global China tampaknya membutakan mata pemerintah Idnoensia terhadap resiko bencana ekologis tersebut hingga Jusuf Kalla pada 2007 berkunjung ke Bendungan Tiga Ngarai, menorehkan tandatangannya “Congratulations!” pada diorama BTN dan membuat siaran pers ‘bergurulah sampai ke negeri China’.

Sebaliknya, pemerintah Indonesia dan China cukup ambisius merancang untuk membangun waduk setinggi 200m yang memuat 1 juta m3 air untuk irigasi 90.000m daerah hilir Ciayumajakuning dan listrik 110MW untuk interkoneksi Jawa-Bali.Alih2 mendapat irigasi yang teratur, seandainya waduk jebol, masy Ciayumajakuning akan terbanjiri limpahan air sebanyak 8 kali jebolan Situ Gintung. Sementara selama periode bencana mulai dari gempa Tasikmalaya September 2009 sampai Situ Gintung, Gunung Merapi dan berbagai bencana longsor gempa kecil2an, belum terbukti komitmen dan kesigapan pemerintah dalam mengupayakan pemulihan kondisi korban rakyat dan rumah terdampak. Sebagai Ring of Fire yang semakin aktif saat ini, fakta geologis wilayah waduk Jatigede perlu disikapi dengan serius, dan pemerintah tidak sepantasnya menafikan potensi bencana ekologis, social dan ekonomi yang mengerikan. Bahkan pihak Sinohydro Corp, konsorsium perbankan dan pemerintah China yang memiliki andil besar di dalam proyek ini juga tidak dapat memberi jaminan bahwa bencana multidimensi skala besar tidak akan terjadi.

Sekalipun terkenal sebagai bendungan terbesar sedunia, BTN juga bereputasi sebagai ‘the most disastrous dam’ (bendungan yang paling membawa bencana). Semakin ke sini, kontroversi internasional atas BTN semakin menuai kritik, baik di China sendiri maupun di dunia Barat, karena bencana social dan erosi DAS Yangtze meningkat dan menyebabkan pertambahan jutaan orang harus pindah darinya. Namun pemerintahan SBY rezim neoliberal tampaknya sudah bertekad mempertaruhkan keberlangsungan tanah Jabar demi pertumbuhan ekonomi dan investasi dalam meningkatkan peran serta Indonesia dalam globalisasi.

Masalah klasik kegagalan bendungan di Ind0nesia adalah rusaknya DAS yang menyebabkan erosi dan sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan bendungan sehingga tidak akan terjadi pengairan yang lancar sepanjang musim ataupun tenaga potensial listrik yang besar.  Kerusakan DAS Cimanuk versiDPKLTS 45% dan menurut hitungan adat Sunda 75%, ditambah potensi erosi Cimanuk yang tinggi. Jatigede tidak akan sukses sebagai bendungan besar, namun sebagai bendungan kedua terbesar nasional akan mengikuti jejak rendahnya kinerja bendungan terbesar nasional, Waduk Jatiluhur dengan prestasi bray-pet dalam pelayanan energi listriknya.

Di era pemanasan global, justru 1200 ha lahan hutan perawan (diperoleh dalam sengketa dengan dephut), pun harus dikorbankan. Juga proses konstruksi saat ini sudah menambah getaran dan kerapuhan tanah Priangan Timur, dan sudah bersiap-siap mengusir setidaknya 12.000 keluarga dari 5 kecamatan sejumlah kurang lebih 50.000 manusia ke tempat yang hingga saat ini tidak ada yang tahu, termasuk pemeritnah dan mereka sendiri, yang berarti proses pemiskinan. Ironis, karena lahan yang mereka tinggali saat ini, adalah lahan subur yang berpotensi untuk menjadi lumbung beras terbaik se-Jabar. Tanpa dilirik pemerintah pun, warga mengaku tidak pernah gagal panen, dengan kualitas bulir padi yang lebih baik dari produksi tanah Karawang. Seandainya saja pemerintah mau berhenti sejenak untuk merenungkan potensi lahan yang akan ditenggelamkan untuk waduk spekulatif ini sebagai lumbung pangan Jabar.

Di atas semuanya, sesungguhnya satu bencana sedang berlangsung sebagai dampak proyek tersebut, yaitu hutang triliunan rupiah yang dibuat antara pemerintah Indonesia dan pemerintah China, dimulai dengan US$239,5 juta dan bertambah terus hingga kini konsorsium perbankan China mendirikan kantor perwakilan di wilayah proyek. Buruknya prestasi bendungan dalam sejarah Indonesia dan potensi gagalnya operasi Jatigede akan menimpakan beban pembayaran hutang, bunga dan dendanya ke pundak masyarakat Jabar dan Indonesia sebagai pembayar pajak.Di era demokrasi ini, pemerintah harus mempertanggungjawabkan semua potensi keberhasilan, resiko kegagalan dan dampak pembangunan waduk Jatigede. Sesuai Keputusan Kepala BAPEDAL no. 08/2000, setiap pemrakarsa proyek harus berkonsultasi kepada masyarakat bahkan sebelum menyusun ANDAL (Analisa Dampak Lingkungan).

(photos : documentation of WALHI JABAR 2010.)

Sumber: https://www.facebook.com/notes/mei-cimahi/fakta-di-balik-pembangunan-waduk-jatigede/10150202785841822

Berikut tulisan Dr. Nina Herlina LUBIS dari UNPAD

Dengan merujuk juga kepada penelitian mutakhir, yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung, di lokasi yang akan ditenggelamkan pembangunan Waduk Jatigede terdapat setidaknya 25 situs arkeologi, yang kebanyakan berupa makam kuna. Situs-situs yang ada di wilayah ini sebagian merupakan peninggalan masa prasejarah (terlihat dari tradisi megalit yang ada), masa Kerajaan Tembong Agung/Sumedanglarang, dan sebagian lagi makam leluhur pendiri desa, ada juga yang tidak diketahui asal-usulnya. Menurut penelitian arkeologi, peninggalan-peninggalan leluhur ini, memperlihatkan adanya transformasi dari masa prasejarah (masa sebelum dikenal tulisan) ke masa sejarah (masa setelah dikenal tulisan). Jadi, makam kuna yang tergolong budaya megalit (batu-batu besar) itu adalah warisan prasejarah yang terus difungsikan pada masa sejarah. Makam-makam kuna ini adalah peninggalan sejarah yang mencerminkan latar belakang sosio budaya masyarakat lama di Kabupaten Sumedang dan nilai makam-makam ini melekat dengan tempat (site) di mana ia berada. Sebagai warisan peradaban sudah sepatutnya situs-situs itu kita lestarikan.

Mengenal Situs Jatigede

Oleh Dr. Nina Herlina Lubis, M.S.

Penulis melakukan kunjungan ke lapangan beberapa bulan lalu untuk melihat kondisi situs-situs tersebut dan mendokumentasikan tradisi lisan yang hidup di sana. Dengan merujuk juga kepada penelitian mutakhir, yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung, di lokasi yang akan ditenggelamkan pembangunan Waduk Jatigede terdapat setidaknya 25 situs arkeologi, yang kebanyakan berupa makam kuna.

Situs Jatigede

Situs-situs yang ada di wilayah ini sebagian merupakan peninggalan masa prasejarah (terlihat dari tradisi megalit yang ada), masa Kerajaan Tembong Agung/Sumedanglarang, dan sebagian lagi makam leluhur pendiri desa, ada juga yang tidak diketahui asal-usulnya. Menurut penelitian arkeologi, peninggalan- peninggalan leluhur ini, memperlihatkan adanya transformasi dari masa prasejarah (masa sebelum dikenal tulisan) ke masa sejarah (masa setelah dikenal tulisan). Jadi, makam kuna yang tergolong budaya megalit (batu-batu besar) itu adalah warisan prasejarah yang terus difungsikan pada masa sejarah. Situs-situs tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Situs Leuwiloa, berupa makam kuna (keramat) Embah Wacana, yang berlokasi di Kampung Leuwiloa, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

(2) Situs Nangewer, berupa makam kuna (keramat) Embah Mohammad Abrul Saka, yang berlokasi di Kampung Nangewer, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

(3) Situs Tembongagung, bekas-bekas kerajaan Tembongagung yang sudah sulit dikenali, hanya ditemukan sebaran keramik Cina dari masa Dinasti Ming, yang berlokasi di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

(4) Situs Pasir Limus, merupakan kompleks makam kuna Eyang Jamanggala, Eyang Istri Ratna Komala Inten, Eyang Jayaraksa (Eyang Nanti), dan makam lain. Di sebelah timur kedua makam ini terdapat monolit. Diduga ada tatanan batu membentuk bangunan berundak. Makam ini disebut juga petilasan Tilem;

(5) Situs Muhara, berupa makam keramat Eyang Marapati dan Eyang Martapati, yang berada di Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja;

(6) Situs Marongpong, berupa makam keramat Embah Sutadiangga dan Embah Jayadiningrat, pendiri Kampung Cihideung, yang berlokasi di Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

(7) Situs Nangkod, makam Embah Janggot Jaya Prakosa, yang berlokasi di Kampung Nangkod Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

(8) Situs Sawah Jambe, berupa tiga batu berdiri (menhir) yang terletak di wilayah Kampung Sawah Jambe, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

(9) Situs Lameta, berupa makam keramat Embah Dira dan Embah Toa, pendatang dari Betawi yang membedah aliran Cihaliwung dan Cisadane. Tokoh ini juga diceritakan sebagai orang (tempat lalandong/berobat) Prabu Siliwangi. Situs Lameta berada di pemukiman penduduk Kampung Lameta Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja;

(10) Situs Betok, kompleks makam yang berlokasi di Kampung Betok, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja;

(11) Situs Tanjungsari, berupa kompleks makam kuna Embah H. Dalem Santapura bin Betara Sakti, penyebar agama Islam di Darmaraja, dengan enam makam putranya, yang berlokasi di Dusun Kebon Tiwu, Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja. Di lokasi ini juga terdapat makam Demang Patih Mangkupraja, Patih Sumedang semasa Pangeran Kornel, dan makam-makam para juru kunci. Dekat situs terdapat sumur kuna yang disebut Cikahuripan.

(12) Situs Munjul, berupa kompleks makam dengan makam utama Singadipa, yang berlokasi di Kampung Munjul, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja;

(13) Situs Keramat Eretan, berupa makam keramat Embah Geulis, istri Prabu Gajah Agung, dan makam-makam lainnya yang berlokasi di Kampung Cisurat, Desa Cisurat, Kecamatan Wado.

(14) Situs Cipawenang, yakni mata air yang dikeramatkan. Situs ini berada di Kampung Cigangsa, Desa Pawenang, Kecamatan Wado. Konon mata air ini dibuat secara ajaib oleh Nyi Mas Ratu Asih, putri dari Kerajaan Nunuk di Majalengka.

(15) Situs Cigangsa, berupa kompleks makam umum yang masih difungsikan hingga sekarang. Pada bagian yang paling atas terdapat kelompok makam yang dikeramatkan, di mana terdapat makam utama yaitu makam Embah Dalem Raden Arya Wangsa Dinaya. Situs berlokasi di Kampung Cigangsa Desa Pawenang, Kecamatan Wado.

(16) Situs Gagak Sangkur, berupa makam keramat Raden Aria Sutadinata ( berasal dari Banten) yang berlokasi di Kampung Sundulan, Desa Padajaya, Kecamatan Wado; (17) Situs Tulang Gintung, berupa makam keramat Eyang Haji Rarasakti atau Jayasakti yang berlokasi di Pasir Leutik, Kampung Sundulan, Desa Padajaya, Kecamatan Wado.

(18) Situs Keramat Gunung Penuh, berupa makam keramat Tresna Putih, yang berlokasi di Kampung Bantarawi, Desa Padajaya, Kecamatan Wado;

(19) Situs Keramat Buah Ngariung, makam Embah Wangsapraja, penyebar Islam di Buah Ngariung, yang berlokasi di Kampung Buah Ngariung, Desa Padajaya, Kecamatan Wado.

(20) Situs Curug Mas, berupa tiga objek, yaitu pertama, kompleks makam Embah Dalem Panungtung Haji Putih Sungklanglarang, penyebar agama Islam dari Kesultanan Mataram dan makam pengikutnya yang bernama Angling Dharma, kedua, air terjun Curug Mas yang diyakini sebagi tempat menyimpan bokor emas, bakakak (ayam dibelah) emas, dan tumpeng emas; dan ketiga, sumur keramat yang dinamai Sumur Bandung. Situs ini berlokasi di Kampung Cadasngampar, Desa Sukakersa, Kecamatan Jatigede.

(21) Situs Cadasngampar, berupa komplek makam Aki Angkrih, pendatang dari Sumatra yang mendirikan Kampung Cadasngampar, dan makam keluarganya, yaitu makam Aki Angkrih, Nini Angkrih, Aki Kulo, dan Nini Kulo. Situs ini terletak di Dusun Cadasngampar, Desa Sukakersa, Kecamatan Jatigede.

(22) Situs Tanjakan Embah, berupa makam keramat Embah Jagadiwangsa dan Embah Sadaya Pralaya, yang berlokasi di Desa Jemah, Kecamatan Jatigede.

(23) Situs Sukagalih, berupa lima makam yang dilengkapi bangunan cungkup. Tokoh utama yang dimakamkan adalah pendiri desa ini yaitu Eyang Akung. Di sebelah baratnya adalah makam istrinya, selanjutnya Aki Gading dan dua makam lagi tidak diketahui namanya. Situs ini berlokasi di Dusun Sukagalih, Desa Jemah, Kecamatan Jatigede.

(24) Situs Keramat Aji Putih. Situs yang berada di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja ini berupa makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan, makam Prabu Aji Putih, dan makam Resi Agung.

(a) Makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan. Lokasi objek terletak di tengah persawahan Makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan (istri Prabu Aji Putih) sampai sekarang masih dikeramatkan oleh penduduk dan masih diziarahi orang, baik penduduk setempat maupun dari luar dengan berbagai keperluan.

(b) Makam Prabu Aji Putih. Lokasi makam terletak di sebelah timur laut makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan. Objek berupa makam yang terletak di puncak bukit. Bukit tersebut dikelilingi oleh parit dan tidak jauh dari Sungai Cibayawak.

(b) Makam Resi Agung. Lokasi makam terletak di puncak bukit sebelah utara makam Prabu Aji Putih. Makam tersebut merupakan makam guru Prabu Aji Putih, pendiri Kerajaan Tembongagung. Makam masih dikeramatkan dan diziarahi oleh masyarakat setempat dan dari luar.

(25) Situs Astana Gede Cipeueut. Secara administratif situs terletak di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja. Lokasi situs terletak di pinggir jalan masuk ke Desa Cipaku dan menyatu dengan pemakaman umum warga setempat. Di situs ini terdapat tiga objek berupa makam Raja Sumedanglarang, Prabu Lembu Agung, Embah Jalul, dan istri Prabu Lembu Agung. Ketiga makam tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan luar daerah.

Demikianlah situs-situs yang berada di lokasi bakal genangan Waduk Jatigede. Makam-makam kuna ini adalah peninggalan sejarah yang mencerminkan latar belakang sosio budaya masyarakat lama di Kabupaten Sumedang dan nilai makam-makam ini melekat dengan tempat (site) di mana ia berada. Sebagai warisan peradaban sudah sepatutnya situs-situs itu kita lestarikan.

Penulis, Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com

nuhuuuns,
mang kabayan
http://www.udarider.com

From: alumni-ipb@yahoogroups.com [mailto:alumni-ipb@yahoogroups.com] On Behalf Of Hirmen Hirmen

Sent: Wednesday, August 14, 2013 11:25 PM

To: Alumni IPB; Hirmen Hirmen

Subject: Bls: Re: Bls: Re: [alumni-ipb] Jatigede & Tenggelamnya Gajah Agung, Ganesha: The Deva of Intellect n’ Wishdom :(

Dikirim dari Yahoo! Mail pada Android

________________________________________

From: Hirmen Hirmen ;

To: Alumni IPB ;

Subject: Bls: Re: Bls: Re: [alumni-ipb] Jatigede Tenggelamnya Gajah Agung, Ganesha: The Deva of Intellect n’ Wishdom :(

Sent: Wed, Aug 14, 2013 4:21:42 PM

Okeh, tlg dipasok inponya utk penolakan inih scr tulisan mang kaby itu hanya dimengerti oleh alumni b dan d. Pake basa melayu

Hi

Dikirim dari Yahoo! Mail pada Android

________________________________________

From: mang kaby ;

To: Alumni IPB ;

Subject: Re: Bls: Re: [alumni-ipb] Jatigede Tenggelamnya Gajah Agung, Ganesha: The Deva of Intellect n’ Wishdom :(

Sent: Wed, Aug 14, 2013 4:07:26 PM

Singkaaap Bang, nuhuuuuns :)

nuhuuuuns,

mang kabayan

http://www.udarider.com

________________________________________

From: Hirmen Hirmen

Sender: alumni-ipb@yahoogroups.com

Date: Wed, 14 Aug 2013 09:03:54 -0700 (PDT)

To: Alumni IPB

ReplyTo: alumni-ipb@yahoogroups.com

Subject: Bls: Re: [alumni-ipb] Jatigede Tenggelamnya Gajah Agung, Ganesha: The Deva of Intellect n’ Wishdom :(

Kita bikin petisi penolakan ajah liwat change.org. Sayang sy lgi d lokasi akses internetnya lembot.

Hi

Dikirim dari Yahoo! Mail pada Android

________________________________________

From: mang kaby ;

To: Alumni IPB ;

Subject: Re: [alumni-ipb] Jatigede Tenggelamnya Gajah Agung, Ganesha: The Deva of Intellect n’ Wishdom :(

Sent: Wed, Aug 14, 2013 4:00:53 PM

Nuhuuuuns Kang AP,

Minimal itulah yg bisa Mamang lakukan dengan segala keterbatasan yg ada.

Insun Medal Insun Madangan ~ Kuring Lahir Keur Nyaangan Alam Dunya, Sy lahir untuk menerangi alam dunia. Begitu ketika Taji Malela lahir diucapkan oleh Prabu Gajah Agung.

nuhuuuuns,

mang kabayan

http://www.udarider.com

________________________________________

From: aguspak@gmail.com

Sender: alumni-ipb@yahoogroups.com

Date: Wed, 14 Aug 2013 15:08:40 +0000

To: Alumni IPB Group

ReplyTo: alumni-ipb@yahoogroups.com

Subject: Re: [alumni-ipb] Jatigede Tenggelamnya Gajah Agung, Ganesha: The Deva of Intellect n’ Wishdom :(

Alhamdulillah mang Kaby, sudah mengabadikan foto2 di tempat khusus dimaksud.

Kalau sudah tenggelam nanti, paling tidak ada foto2nya yang masih bisa menjadi sumber inspirasi buat anak-cucu nanti.

Menjadi tugas kita untuk menjaga keberlanjutan keluhuran kaSumedangan.

Wass,

AP

Sent from my BlackBerry®

powered by Sinyal Kuat INDOSAT

________________________________________

From: “mang kaby”

Sender: alumni-ipb@yahoogroups.com

Date: Wed, 14 Aug 2013 14:04:11 +0000

To: Senyum-ITB; Alumni IPB; Baraya_Sunda; UrangSunda; Kisunda; Kota Bogor

ReplyTo: alumni-ipb@yahoogroups.com

Subject: [alumni-ipb] Jatigede Tenggelamnya Gajah Agung, Ganesha: The Deva of Intellect n’ Wishdom :(

Alhamdulillah, pas mudik kemarin ke Sumedang Mamang treking ke Situs Kabuyutan Aji Putih Cipaku Darmaraja untuk mendokumentasikannya bersama Juniors Mamang juga Kakeknya anak-2 + Tanteu-nya anak-2 yg hobby-nya naek gunung, besoknya si Ateu pergi ke Garut naek Gunung Cikuray bareng temen-2 Karemata IPB hehehe susah kalo hobby mah. Kenapa didokumentasikan karena takut, ada gosip yg beredar Oktober tahun ini akan ditenggelamkan bersamaan 37 situs bersejarah lainnya dalam proyek Waduk Jatigede.

Jujurnya pas berada di Situs itu hati Mamang merasa tersayat-2 karena dulu waktu kecil tempat bermain mencari daun cingcau disana pas ngabuburit sebelum buka puasa. Lebih nyesek lagi sangat “bodoh bin borokokok” hehehe Pemerintah Kabupaten Sumedang setuju untuk menghancurkan Kabuyutan Karuhunnya. Ibarat filem Avatar dimana pohon kehidupan yg menjulang kelangit harus ditebang demi tambang, hubud dunya :( (. Dan di Kabuyutan Cipaku itu ada puluhan pohon besar-2 yang menjulang kelangit beserta mata air yg mengalir tiada henti yg disebut masyarakat sebagai Sumur Cikahuripan.

Dekat dengan situs tersebut dimana di puncaknya ada batu kecil simbol Monoteismeu Batara Tunggal/ Nu Kawasa, Nu Ngersakeun, n’ Nu Maha Murbeng Alam terdapat Mushola yg dibangun swadaya masyarakat dengan tulisan yg cukup dalam maknanya: Tafakur, Tasyakur, dan Tadjakur :) . Subhanalloh :) . Oh ya Resi Guru Aji Putih konon kabarnya seorang Muslim :) . Sebagai Simbol Monoteismeu Ketauhidan bahwa tiada Tuhan selain Alloh SWT masyarakat disana ketika menguburkan yg meninggal dunia maka batu nisannya hanya satu di sebelah utara aja :) . Umumnya kan biasanya dua di utara dan selatan. Oleh karenanya katanya kalau mau membedakan orang Cipaku atau bukan sangat gampang dilihat kuburannya kalau nisannya satu itulah orang Cipaku :) . Menariknya lagi ternyata Nama Cipaku tersebar dihampir seluruh Wilayah Tatar Sunda, di Bandung ada, di Bogor juga ada deket Balong Kabayan lagi deket Sungai Cisadane tentunya.

Kabuyutan ini lokasinya dekat muara Sungai Cibayawak dengan Sungai Cimanuk seperti kita ketahui Abad ke-4 Maharaja Purnawarman Raja Tarumanagara menjaga Sungai diantaranya yang dia jaga adalah Sungai Cimanuk. Nah apakah kabuyutan Cipaku ini dibuat kaitannya dengan menjaga Sumber Air dan Daerah Aliran Sungai? Karena seperti kita ketahui air adalah sumber kehidupan manusia yg utama. Ngak ada manusia ato mahluk hidup pun yg bisa hidup tanpa air. Dan terbukti daerah Cipaku dan sekitar kabuyutan tersebut sawah menghampar dengan suburnya. Konon kabarnya menurut Kang Odjat Pituin Sumedang Karuhunnya dari Cipaku juga Konsultan Kehutanan Lingkungan Alumni IPB, http://www.aksenta.com beras Sumedang dulu cukup disegani setelah Cianjur :) . Cipaku, Darmaraja dan sekitarnya merupakan lumbung padi Kabupaten Sumedang. Sangat ironis justru sawah yg subur harus ditenggelamkan :( (. Mungkin biar import berasnya makin kenceng hehehe.

Nah yang menarik ternyata Situs Kabuyutan Cipaku ini dipimpin oleh Seorang Resi Guru Aji Putih yg kelak menurunkan Raja-2 Sumedang :) . Resi Guru Aji Putih memiliki dua orang anak yang cikal bernama Lembu Agung yang ternyata sama seperti ayahnya punya ethusiast dalam bidang karesian dan tetap tinggal di Cipaku. Naah anak ke-2 yang bungsu bernama Gajah Agung dan beliau ternyata punya bakat menjadi seorang Raja.

Gajah Agung kemudian tinggal di Cisurat Darmaraja :) . Naah Gajah Agung ini mendirikan kalau tidak salah kerajaan namanya Himbar Buana (Menerangi Dunia) :) . Nah Gajah Agung memiliki anak namanya Tajimalela dan tinggal di Gunung Lingga. Ketika Prabu Tajimalela lahir diceritakan langit terang benderang termasuk ketika malam sekalipun. Tajimalela ini lah yang kemudian mendirikan Kerajaan Sumedang Larang :) . Dimana ketika Pajajaran tumpur Siliwangi terakhir Prabu Suryakancana mengirim Mahkota kerajaan beserta 4 Panglima saktinya ke Sumedang Larang karena pada saat itu Sumedang Larang yang dipimpin Prabu Geusan Ulun merupakan Kerajaan yang mulai tumbuh diharapkan oleh Suryakancana dapat melanjutkan estapet.

Nah yg menarik lagi ada daerah dari Kota Sumedang arah ke Cirebon sebelum Cimalaka ada nama Wilayah/ Kampung Gajah Depa. Depa apa ya bahasa Indonesia-nya?

Di Indonesia dahulu kok banyak nama Gajah ya? Dari mulai Gajah Mada yang kontroversial itu dan Gajah-2 lainnya. Bahkan menurut temen Mamang di Minang juga sama banyak Gajah juga?

Dan yang tentunya paling spektakuler adalah logo berbentuk gajah duduk kampus tercinta Mamang dan nama jalan lokasi dimana ITB berdiri jalan Ganesha 10 :) . 10 ~ Sempurna? Siapa ya yang pertama kali punya ide logo ITB berupa logo Dewa Ganesha? Nah Mamang iseng-2 surfing-2 ke gan gugle ternyata Ganesha konon kabarnya adalah Dewa Intelektual dan Kebijaksanaan :) . Ganesha juga diidentikan dengan Para Pemimpin yang Bijaksana dan Berilmu :) . Nah yang uniknya kok gambarnya Ganesha menunggangi Tikus?

Nah Mamang ngak tahu apakah ada kaitannya dengan rencana ditenggelamkannya Situs Kabuyutan Cipaku dan Gajah Agung bersamaan dengan makin terpuruknya Bangsa ini? Tentunya Mamang dulu ingat banget pas pertama kali datang menginjakan kaki di Kampus Ganesha disambut Spanduk bertuliskan Selamat Datang Para Calon Pemimimpin Bangsa? Dulu ada suatu kebanggaan tersendiri dimana Mamang yang urang kampung bau lisung bisa kuliah di kampus yg dulu sangat disegani. Betapa hancurnya hati Mamang ketika melihat berita Metro TV pagi ini Kang Rudi Rubiandini yang bageur pisan dulu merupakan Pembina Lingkung Seni Sunda ITB dengan prestasi begitu memimpin mampu meningkatkan produksi Migas ternyata tertangkap KPK :( (. Cobaan apalagi yg menimpa bangsa ku ini :( (. Barangkali itulah Sirotol Mustakim jembatan pemisah baik buruk yang sangat tipis, lebih tipis dari sehelai rambut dan tajam, lebih tajam dari sebilah pedang. Mamang mendoakan semoga Kang Rudi mendapatkan keadilan yg seadil-2nya, kalau memang salah ya salah, kalau benar ya ngaku benar. Lonjor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, nu lain dilainkeun nu enya dienyakeun. Yg benar katakan benar, yang salah katakan salah begitulah pikukuh dari karuhun.

Menurut Sanghiang Siksa Kandang Karesian, barang siapa seorang pemimpin yg tidak bisa menjaga kabuyutan maka dia termasuk orang yang hina, lebih hina dari kulit lasung yang dibuang ketempat sampah. Kabuyutan ini jaman dulu merupakan Karesian tempat mengajarkan Ilmu Pengetahuan, Kebaikan, Kebijaksanaan, Aturan Norma n’ Nilai Etika, dlsb. Buyut Teu Meunang Dirempak ~ Aturan tidak boleh dilanggar. Mirip sama Ganesha Simbol Intelektual dan Kebijaksanaan. Nah dengan ditenggelamkannya Kabuyutan yg merupakan simbol intelektual dan kebijaksanaan tentunya yg muncul adalah keburukan, keserakahan, dan kehancuran. Itulah nasib Indonesia saat ini, segala aturan etika, moral, kebaikan, dan kebijaksanaan sudah mulai diabaikan dan yg tersisa berupa puing-2 harapan akan adanya kebaikan. Akan ditenggelamkannya Kabuyutan Cipaku n’ Gajah Agung yg diujung tanduk, apakah simbol intelektual n’ kebijakan itu akan benar-2 tenggelam? Wallohualam. Hanya masyarakat kasepuhan Cipaku yang sampai kemarin Mamang berkunjung kesana masih yakin Kabuyutan Cipaku tidak akan tenggelam sampai kapanpun? Ya mungkin hal itu hanya harapan semu saja karena mereka sangat sulit dan tidak bisa membayangkan Kabuyutan akan ditenggelamkan oleh Pemerintah Indonesia :((.

Apakah ini salah satu “konspirasi zionis” yg secara terstuktur merusak n’ menghancurkan Indonesia yang Ibarat Surga ini dan tentunya cara yg paling epektip n’ episien ya dari Pendidikan/ Intelektual n’ Kebijaksanaan, Kabuyutan? Kalau Moral sudah rusak maka hancur sudah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa dilihat begitu banyak parameter-2 yg menunjukan bobroknya bangsa ini salah satunya Corruption Perception Index yang masih terpuruk dijajaran negara-2 yg terkorup :( (. Inalillahi wa ina ilaihi rojiun. Kabuyutan ~ Intelektual n’ Kebijaksanaan sudah hampir tenggelam, bagaimanakah nasib selanjutnya? Kita lihat bulan Oktober yang katanya akan ditenggelamkan :( (.

Selain itu di Situs Kabuyutan juga terdapat hutan dgn pohon yg mungkin umurnya ratusan tahun dan pesawahan yang subur sebagai simbol pangan. Apakah dengan ditenggelamkannya Situs itu merupakan Simbol Bukti Fakta nyata bahwa Negara ini memang tidak menghargai bahkan merusak Hutan serta Sumber Pangan? Lagi-2 mimpi kemandirian pangan dan menjaga hutan tetap lestari mungkin hanya isapan jempol belaka, alias mimpi disiang bolong :( (.

Ganesha dari Wikipedia Selengkapnya:

Ganesa (Sanskerta गणेश ; ganeṣa dengarkan ) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk Nepal, Tibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa memedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina, Buddha, dan di luar India.[1]

Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa mahsyur sebagai “Pengusir segala rintangan” dan lebih umum dikenal sebagai “Dewa saat memulai pekerjaan” dan “Dewa segala rintangan” (Wignesa, Wigneswara), “Pelindung seni dan ilmu pengetahuan”, dan “Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan”. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara.[2] Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.

Ganesa muncul sebagai dewa tertentu dengan wujud yang khas pada abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi, selama periode Gupta, meskipun ia mewarisi sifat-sifat pelopornya pada zaman Weda dan pra-Weda.[3] Ketenarannya naik dengan cepat, dan ia dimasukkan di antara lima dewa utama dalam ajaran Smarta (sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9. Sekte para pemujanya yang disebut Ganapatya, (Sanskerta: गाणपत्य; gāṇapatya), yang menganggap Ganesa sebagai dewa yang utama, muncul selama periode itu.[4] Kitab utama yang didedikasikan untuk Ganesa adalah Ganesapurana, Mudgalapurana, dan Ganapati Atharwashirsa.

Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Ganesa

Terlampir foto Ganesha menunggangi tikus, Kabuyutan Cipaku dan Pohon-2 besarnya, anak-2 senang bermain di Sungai Cibayawak, hamparan sawah dimana Mamang biasanya ngurek dan mencari jamur ditumpukan jerami, rumah panggung khas Kabuyutan Cipaku yang masih banyak disana, mungkin lebih banyak rumah panggungnya dibanding rumah gedongnya hehehe. Rumah-2 ini mirip sama Kampung Naga Orientasinya Utara Selatan :).

Pun sapun kaluluhuran… Alif Lam Mim! Pa Ma Ya Mal Miskola Darotin Hoiroy Yaroh, Wa Ma Ya Mal Miskola Darotin Saroy Yaroh. Melak Cabe Jadi Cabe, Melak Bonteng Jadi Bonteng, Melak Hade Jadi Hade, Melak Goreng Jadi Goreng. Apa yang ditanam itulah yang dituai. Setiap kebaikan walaupun sekecil apapun akan ada balasannya, begitu juga setiap keburukan walaupun sekecil apapun akan ada balasannya juga.

nuhuuuuns,
mang kabayan
http://www.udarider.com

One response to “Kualat bagi Perusak Situs Kabuyutan Prabu Siliwangi Pakuan Pajajaran (simbol MONOTEISME NUSANTARA)

  1. Dengan peninggalan sebanyak itu mau di buat bendungan? Apakah tdk ada cara lain untuk sistem irigasi tanpa korbankan situs? masak sih teknokrat dan para insinyur gak bisa mikir yg lbh nature?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s