Falsafah Diri Situs Gunung Padang

Falsafah Diri Situs Gunung Padang

By Raden Wiraatmadja in ATLANTIS INDONESIA (AI)

Situs  Megalitikum Gunung Padang menyiratkan perjalanan hidup manusia, tidak hanya badaniah tetapi juga rohaniah. Perjalanan lahir dan batin ini mengisyaratkan proses pencapaian manusia yang manusiawi.

Falsafah kemanusiaan di tanah Sunda membedakan “jalma” (jelema) dengan “manusa”. Kata pertama bermakna semenjak lahir seseorang baru “menjelma” menjadi mahluk. Ia belumlah manusia seutuhnya. Dia masih harus menjalani pendidikan yakni pembentukan dan pengembangan diri lahir dan batin. Kata kedua menjelaskan kondisi manusiawi bagi seseorang.

Kondisi manusiawi dalam kata “Manusa” dijelaskan dengan hakikat “Kamanusaan”. Hakikat ini berisi tiga keterarahan: “Kami” atau kepada Yang Maha Kuasa pemberi kehidupan, “Kama” kepada orangtua sebagai “sebab” keberadaan (cukang lantaran) dan “Nusa” atau kepada alam sebagai sesama mahluk dalam kehidupan. Ketiga keterarahan di atas menggambarkan secara kodrati manusia mampu mewujudkan “kasampurnaan”.

“Kasampurnaan” dalam konteks ini lebih berarti tugas untuk memelihara dan menata dirinya, sesama manusia, alamnya berdasarkan kekuasaan yang dititipkan kepadanya oleh Yang Maha Kuasa. Tugas itu diemban pula karena konstelasi kehidupan dalam semesta sudah dan selalumenyempurnakan manusia. Kasampurnaan memang mengandaikan kelebihan manusia dibandingkan mahluk lainnya. Kelebihan itu justru menjadi amanat dan mandat yang sewajarnya diwujudkan karena kodratnya. Amanat dan mandat ini diberi wujud keutamaan, sikap hidup, dan perilaku mulia .

Perjalanan Menemukan Diri Perjalanan kehidupan seperti ini tertuang dalam peziarahan di Gunung Padang. Perjalanan di Gunung Padang menyiratkan penemuan jatidiri dan mengalami “gumulung” dengan Yang Maha Kuasa dan Semesta. Perjalanan atau “nyucruk galur” tersebut digambarkan dalam wujud (tanggara), nama (ungkara) dan makna (uga) dari tiap-tiap batu di Gunung Padang.

Batu menyatakan “Baca” dan “Tulis”. Manusia dianjurkan membaca semesta dan membaca dirinya sendiri. Muara dari “membaca alam dan diri” ialah menuliskannya dalam perilaku hidup sehari-hari. Berkaitan dengan proses penemuan diri tersebut berikut ini penjabaran tanggara, ungkara dan uga setiap batu.

1. Mata Air Cikahuripan Wujud (tanggara):

mata air gunung. Nama (ungkara): Cikahuripan Uga (uga): Mata air gunung sering diibaratkan air susu ibu, cai nyusu. Air sebagai sumber dan asal kehidupan manusia (kondisi dalam rahim janin hidup dari dan dalam cairan.

Hampir seluruh tradisi di muka bumi ini meyakini manusia berada dalam kondisi yang bersih. Maksudnya, bersih dalam arti steril; dan secara metaforik berarti suci atau dalam istilah keagamaan tanpa dosa. Karena itu, manusia selayaknya senantiasa membersihkan diri dengan kembali ke air. Air tidak hanya membersihkan tubuh atau wadah. Tetapi juga air membersihkan isi atau pikiran dan rasa.

Dalam kondisi bersih itu manusia mengalami kehidupan untuk memulai perjalanan spiritualnya. Membersihkan diri dengan mata air Cikahuripan atau cai nyusu, bermakna bahwa kehidupan memiliki awal, manusia berasal dari air (sagara). Kesadaran akan awal membawa penyadaran akan tujuan kehidupan.

Hidup mempunyai tujuan, dan karena tujuan itu lahirlah alasan untuk menghidupi hidup itu sendiri.

2. Lawang Saketeng Tanggara:

Gapura dengan 9 anak tangga. Ungkara: Lawang Saketeng, atau uga: Gapura ini menyimbolkan penyadaran keberadaan Diri seseorang dan keterkaitannya dengan Semesta dan Yang Kuasa. Keterkaitan ini disadari melalui doa pembukaan di gapura.

Rangkaian doa ini menunjukkan bahwa seseorang selalu berkaitan dengan para leluhur (karuhun, orangtua, kasepuhan), Semesta dan Yang Maha Kuasa. Keterkaitan itu disimbolkan dengan 9 anak tangga memasuki situs Nagara Padang. Angka 8 mewakili setiap penjuru mata angin yang, dan 1 ialah inti dari kehidupan yakni Yang Maha Kuasa.

Doa pembukaan bertujuan juga untuk mendoakan orangtua dan para leluhur, dan memohon doa mereka untuk perjalanan dan penemuan hakikat diri (tekad). Seseorang mendoakan orangtua dan leluhur kepada Yang Kuasa agar amal bakti yang mereka lakukan sepanjang hidup menjadi keharuman bagi keturunannya. Keharuman bagi keturunan sekaligus juga mengharumkan nama Yang Kuasa. Orangtua dan leluhur (karuhun) dan semesta akan menjadi perantara yang menghantar seseorang untuk mengungkap jatidiri dan hakikat diri.

3. Palawangan Ibu Tanggara:

Susunan bebatuan membentuk celah Ungkara: Batu Palawangan ibu Uga: Batu ini menjadi simbol untuk rahim ibu. Keberadaan manusia dan perjalanan hidupnya diawali dengan kelahiran. Kelahiran juga mengingatkan seseorang pada awal dan tujuan hidup. Dengan kelahiran lalu setiap orang memiliki tugas yang harus dikerjakan. Ini nanti berkaitan dengan upaya menemukan dan menjalani takdir.

Batu ini pun menandai kelahiran baru bagi seseorang yang memiliki visi dan misi tertentu. Kelahiran baru penting supaya ia menjalani hidup sebagai insan yang mempunyai semangat dan paradigma baru mengenai kehidupan. Ini mempengaruhi bagaimana kemudian kita menyadari bahwa hidup itu sendiri selalu menjadi langkah baru bagi setiap orang.

4. Batu Paibuan Tanggara:

Batu megalitik besar dan batu bedak Ungkara: Batu Paibuan, atau Batu pengasuhan Ibu untuk si jabang bayi.

Pada situs ini terdapat juga batu bedak, yang menjadi tanda bagi perawatan ibu kepada anaknya. Uga: Batu ini mengingatkan seseorang pada pengasuhan ibu yang diterimanya pada saat kelahiran, dan pengasuhan ibu yang dialaminya setelah ia “lahir baru”. Pengasuhan ibu berhubungan dengan pendidikan rasa.

Rasa penting ditumbuhkan karena kepekaan dan kesadaran akan kehidupan itu sendiri berasal dari kemampuan ini. Ketika rasa berkaitan dengan pikiran, hasilnya ialah pertumbuhan peradaban, manusia yang berbudaya. Pengasuhan rasa dikaitkan dengan pendidikan pikiran. Pendidikan pikiran merupakan bagian dari Ayah. Pendidikan pikiran berkaitan dengan penanaman ilmu dalam artian kemampuan teknis dan pengetahuan umum mengenai kehidupan.

Pendidikan Ayah berikaitan dengan derajat martabat kemanusiaan. Seseorang belajar mengenal rasa dan pikiran melalui perilaku orangtuanya. Melalui pendidikan Bapak dan Ibu anak mengenal juga prinsip dan keutamaan melalui teladan. Dengan demikian, anak pun mengalami bahwa prinsip dan keutaman hidup merupakan kekuatan kodrati. Artinya keutamaan dan prinsip sudah mendarah daging dalam tubuh dan jiwa manusia. Jika orangtua menampilkan keutamaan dan prinsip dalam perilaku sejak dini, anak mempelajari kemanusiaan baik sebagai wujud penyempurnaan diri setiap orang maupun sebagai medan perjumpaan dengan Yang Kuasa.

5. Panyipuhan Tanggara:

Lempeng batu pipih mirip besi yang siap ditempa dan dibentuk. Ungkara: Batu Panyipuhan Uga: Simbol untuk tempat pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren. Seseorang dapat mengalami pengembangan dan pembentukan ilmu, watak, karakter dan perilaku dari pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren. Seseorang mengasah ilmu, mengolah fisik, belajar membentuk watak dan karakter, belajar memperlakukan keutamaan dan prinsip-prinsip hidup dalam pergaulan sehari-hari di sekolah. Seseorang akan belajar mengenal kekuatan kodrati dalam dirinya ketika dia memperlakukan hal-hal yang dipelajari di atas. Kekuatan itu berasal dari Yang Kuasa, dan diberikan agar manusia bertindak sebagai pengemban kekuasaan tersebut dalam menyempurnakan semesta ini.

6. Poponcoran Tanggara:

Susunan batu yang membentuk lorong yang bisa dilalui tubuh manusia. Batu ini mengarahkan orang ke posisi lebih tinggi Ungkara: Batu Panyipuhan. Susunan batu ini. Uga: Batu ini merupakan simbol untuk ujian dan kelulusan. Setiap orang pada saatnya untuk diuji. Jika seseorang sudah menggali ilmu, mengembangkan dan membentuk diri: watak, karakter dan perilaku, ia harus melewati tahap ujian akhir. Jika ia dapat melewati ujian akhir ini, ia lulus dari sekolah, madrasah atau pesantren. Artinya, ia menyelesaikan tahapan penggemblengan fisik dan mental. Pendidikan telah dialami secara lengkap: pendidikan pikiran, rasa dan tubuh.

7. Kaca Saadeg Tanggara:

Batu ini berbentuk vertikal-datar. Pada batu ini seolah-olah seseorang bercermin.. Ungkara: Batu Kaca Saadeg. Uga: Batu ini mengisyaratkan saat bercermin diri: mengingat identitas dan tujuan hidup: “siapa saya?”; “apa tujuan hidup ini?” (visi); “apa keinginan saya dalam hidup?” (misi). Proses ini disebut menerawang diri (narawang). Refleksi diri untuk menentukan tujuan (visi) dan keinginan (misi) dalam hidup. Visi dan misi membantu seseorang menyempurnakan diri, atau mewujudkan kemanusiaan dalam dirinya. Karena itu, Visi dan misi hidup merupakan tugas yang harus dipenuhi sebagai seorang manusia yang manusiawi. Jika sudah menentukan tujuan dan keinginan, tekad harus ditetapkan untuk melangkah selanjutnya.

8. Gedong Peteng Tanggara:

Batu menyerupai gua yang gelap. Lokasinya sendiri terletak di bagian bawah dan tertutup pohon rimbun. Lokasi ini menyebabkan batu ini tidak banyak terkena sinar matahari, atau gelap. Kegelapan inilah yang kemudian menjadi nama, atau peteng. Ungkara: Batu Gedong Peteng. Uga: Batu ini merupakan simbol untuk diri yang masih gelap (peteng) dan ingin mendapatkan penerangan atau petunjuk untuk menapaki hidup berdasarkan karir yang diinginkan. Setiap orang harus menentukan karir dalam bentuk pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Karir akan membawa orang merealisasi tujuan (visi) dan keinginan (misi) pribadi. Ini penting agar seseorang yang baru saja menyelesaikan tahap pendidikan dapat terus mengembangkan ilmu, watak, karakter dan perilaku. Proses pemanusiaan masih terus terjadi.

9. Karaton Tanggara:

Karaton atau Istana Ungkara: Batu Karaton. Uga: Istana menyimbolkan kedudukan, dan kewibawaan seseorang berdasarkan tugas yang diembannya. Jika seseorang bekerja berdasarkan karir yang dipilihnya, ia akan mengalami promosi atau kenaikan tingkat keahlian.

Seseorang juga dapat mendapatkan kedudukan berdasarkan pilihan bersama siapa ia akan menjalani hidupnya, yakni membentuk keluarga. Kedudukan berdasarkan karir atau kenaikan tingkat keahlian ditentukan berdasarkan baik pewujudan ilmu dan keahlian maupun watak, karakter dan perilaku.

Entah ia berkerja mandiri atau bekerja di bawah pimpinan orang lain, entah sebagai pekerja atau sebagai pemimpin pekerjaan sehari-hari akan mengasah ilmu, keahlian dan perilaku. Berdasarkan kedudukan ini setiap orang memiliki tugas masing-masing.

Demikian juga berlaku untuk kedudukan dalam keluarga. Entah bapak entah ibu memiliki tugas yang sejajar dalam keluarga.

10. Kutarungu Tanggara:

Batu ini menjulang tinggi, menyerupai telinga. Ungkara: Batu Kutarungu. Nama Kutarungu mengacu pada tempat (kuta) dan pendengaran (rungu). Juru kunci menghubungkannya dengan telinga tubuh dan telinga batin. Uga: Batu ini menyimbolkan sikap hati yang teguh seperti digambarkan oleh Batu yang menjulang tinggi. Sikap hati yang teguh akan mendengarkan suara hatinya, dan tidak mendengarkan suara-suara yang dapat membelokkan jalan yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan misi pribadi.

Kearifan Sunda menekankan pentingnya mengenali kemampuan pancaindra bagi kehidupan. Salah satu yang penting ialah telinga. Batu bagi pendengaran ini bermakna kemampuan bertindak sesuai dengan suara hati. Suara hati atau pusat diri menuntun seseorang untuk teguh pada pendirian berdasarkan prinsip.

Seseorang yang telah menjalankan karir sesuai dengan tugas dan kedudukannya diandaikan memiliki prinsip yang teguh, atau teguh pada kebenaran yang diyakininya Ia tidak mudah dihanyutkan oleh suara-suara (pendapat, gosip, isu, fitnah, kabar-kabar lainnya) yang dapat membelokkannya dari jalan menuju visi dan misi. Jika seseorang berpegang pada suara hatinya (prinsip dan keutamaan hidup), dia dapat membedakan mana kecenderungan konstruktif (kebaikan), mana yang destruktif (kejahatan).

Seseorang diharapkan mampu mengolah informasi yang didengarnya (diterimanya) sebelum bereaksi. Dengan kata lain, seseorang diajak untuk bertindak bijak, menghindari sikap ceroboh dan sembrono, asal memberikan tanggapan, dan mengikuti kecenderungan jahat dalam dirinya.

11. Bumi Agung Tanggara:

Batu besar yang menjulang tinggi. Batu ini harus didaki dari satu sisi dan turun pada sisi lain yang berhubungan dengan batu besar berikutnya, Batu Korsi Gading. Dari puncak batu ini bisa terlihat lansekap tatar Bandung di segala penjuru. Agung menandai tanah, bangsa dan juga nagara atau Diri. Agung berkonotasi dengan mulia.

Ungkara: Batu Bumi Agung. Uga: Batu ini menyimbolkan sikap menjunjung tanah air atau bela bangsa. Kesadaran bahwa pemilik kehidupan bukanlah diri pribadi, tetapi Yang Kuasa berkonsekuensi kesadaran untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa (membela bumi). Tanah air dan bangsa meliputi semesta berikut benda dan mahluk yang mengisinya. Artinya, seseorang mempunyai tugas untuk membaktikan keberhasilannya untuk segenap mahluk dan semestanya. Membela bangsa sama saja artinya dengan membela diri sendiri. Maksudnya memelihara dan menjaga tubuh sebagai “bumi” bagi pikiran dan rasa.

Menata tubuh berimplikasi pada penataan pikiran dan rasa juga. Tujuan penataan ini ialah menjadikan tubuh, pikiran dan rasa mediasi untuk memancarkan kekuasaan Yang Maha Kuasa dalam merawat dan menata Semesta. Membela bangsa dan tubuh disebut amal ibadah manusia kepada Tuhan dan Semesta. Prinsip-prinsip hidup, keutamaan yang telah dihayati bersama dengan tugas–melalui karir atau pekerjaannya — ditujukan untuk menata, memelihara dan mengembangkan setiap jenis kehidupan.

Di sinilah prinsip silih asih dan silih asuh hendak diwujudkan di tengah-tengah semesta beserta isinya. 12. Korsi Gading Tanggara: Batu ini berbentuk kursi. Gading mengisyaratkan tahta. Seseorang yang menaiki Batu Bumi Agung, sebelum turun harus menyeberang ke Batu ini untuk duduk di sini.

Ungkara: Batu Korsi Gading. Uga:

Batu ini menjadi simbol untuk membaktikan kekuasaan berdasarkan tugas yang diemban untuk merawat dan menata diri sendiri, tanah air dan bangsa, atau Semesta. Masih berkaitan dengan Bumi Agung, tempat ini bermakna untuk membaktikan kedudukan berdasarkan tugas untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa. Dharma seseorang termasuk membaktikan kedudukan bagi nusa dan bangsa. Kedudukan memunculkan kekuasaan atau kemampuan menata dari dalam diri seseorang. Kekuasaan justru semakin berarti jika diwujudkan untuk menolong dan membantu sesama, atau secara luas memelihara dan mengembangkan kehidupan.

Dengan kata lain, semakin berkuasa seseorang semakin ia dituntut oleh kodratnya sendiri untuk mengungkapkan belas kasih (welas asih).

13. Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Tanggara:

batu berbentuk tugu. Di atas tugu itu terdapat tatahan ibu jari. Ungkara: Batu Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Uga: Batu ini menjadi simbol untuk mensyukuri (nuhunkeun) prinsip dan keutamaan silihwangi pada Yang Kuasa. Batu ini masih berhubungan dengan Batu Bumi Agung, dan Batu Korsi Gading. Prinsip silih asih, silih asah dan silih asuh dan prinsip welas asih atau rohman rohim berkaitan dengan keutamaan silihwangi.

Silihwangi berarti saling menghormati, saling menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Setiap orang tanpa pandang bulu memiliki tugas untuk saling hormat dan saling menjunjung martabat dan harkat kemanusiaan. Karena itu, seseorang perlu mensyukuri (nuhunkeun) keutamaan ini kepada Yang Kuasa karena secara kodrati manusia sudah dititipi kemampuan ini dan memangmampu merealisasi keutamaan ini dalam hidup sehari-hari. Mensyukuri berarti mengingat dan memperlakukan keutamaan itu berdasarkan keyakinan yang dipegang.

14. Lawang Tujuh Tanggara:

Pintu menunjukkan jalan atau jalur. Tujuh mengarah pada jumlah hari dalam satu minggu. Ungkara: Batu Lawang Tujuh atau Pintu Tujuh. Uga: Batu ini menyimbolkan perjalanan menempuh “jalur” hidup yang sudah ditentukan berdasarkan waktu kelahiran (7 hari). Setiap orang mempunyai “jalan”nya masing-masing untuk mewujudkan visi dan misinya. Jalan itu sudah diberikan berdasarkan hari kelahiran. Tugas manusia untuk menjalani jalur itu berdasarkan pada visi dan misinya. Jalur tersebut akan mengembalikan kita kepada Yang Kuasa, yang menjadi pusat dan bersemayam dalam diri manusia.

15. Padaringan (leuit Salawe Jajar) Tanggara:

Jajaran batu megalitik yang melingkar. Ungkara: Batu Padaringan. Padaringan berarti juga leuit atau lumbung padi. Lumbung padi itu digambarkan berjumlah 25 dan letaknya sejajar. Uga: Batu ini menyimbol lumbung padi (leuit atau padaringan) menandai kesejahteraan manusia dan pencapaian kepenuhan hidup sebagai manusia.

Kesejahteraan itu hendak dialami nuansa kebersamaan. Nuansa kebersamaan ini digambarkan dengan posisi sejajar. Di sinilah keutamaan Sapajajaran dikenali. Adalah tugas seseorang yang sudah mencapai keberhasilan dan kedudukan untuk menyejahterakan bumi atau semesta beserta isinya.

Menyejahterakan bumi dan seisinya ibarat mengisi lumbung, atau menyediakan sumber kehidupan bagi tanah air dan bangsa. Visi dan misi seseorang tercapai jika ia mampu menjadi pengemban kekuasaan Ilahi untuk membagikan kesejahteraan bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Ia mengikuti peran Ibunya yang menyusui dan mengasuh anak tanpa memandang anak ini kelak berbuat kebaikan atau kejahatan. Membagikan kesejahteraan bagi bumi dan sesama menandai keadilan.

Prinsip keadilan mengejawantahkan keutamaan sapajajaran. Pada dasarnya manusia tidak mengenal pembedaan berdasarkan status lahir. Berdasarkan kodratnya manusia dalam keragamannya sejajar satu sama lain, juga berdasarkan kodratnya, manusia pun sejajar dengan mahluk lain karena sama-sama ciptaan. Demikian juga kesejajaran itu dihayati dalam relasi manusia dengan alam semesta.

16. Puncak Manik Tanggara:

Tanah datar yang dikelilingi bebatuan besar membentuk cincin. Ungkara: Puncak Manik. Manik berarti wadah. Dalam wadah itu terjadi persatuan antara Diri dengan Semesta dan Yang Kuasa. Persatuan itu digambarkan pula dengan kembalinya manusia ke asalnya ketika ia mencapai tujuannya. Uga: Batu ini menjadi simbol untuk pencapaian dan perwujudan visi – misi pribadi serta kembalinya atau bersatunya manusia dengan Semesta dan Yang Kuasa.

Usaha mewujudkan visi dan misi mengenal batas. Batas itu ialah puncak keberhasilan dan kedudukan. Puncak berarti sudah tercapai visi dan misi atau visi dan misi “sudah di tangan”. Imperatif berikutnya ialah segeralah menggunakan kedudukan dan keberhasilan, atau kemampuan untuk beramal ibadah, berbakti dan berbagi (“Tereh make salawasna”) Kemampuan ini yang disebut mewujudkan manusia yang manusiawi, yang bukan hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Puncak manik juga berarti kembalinya seseorang pada jatidirinya yang asali. Jatidiri setiap manusia ialah persatuan dengan asal dan tujuan hidup: Yang Kuasa, “Sang Diri”. Peristiwa ini kemudian diberinama “pulang”. Inilah sebenarnya pencapaian tertinggi usaha dan kekuasaan manusia. Keunggulan dan kewibawaan pada akhirnya akan kembali.

Penutup

Situs Nagara Padang mengandung permainan aksara dan bunyi pada kata “Nagara”. Kata tersebut berupa siloka (teka-teki) yang membuat pembaca berpikir tentang makna. Jika “na ga ra” dibaca seperti tertulis, maka alam pikir bahasa Indonesia memberinya makna pada pelembagaan atau organisasi kolektivitas manusia berdasarkan tujuan yang sama dan dibangun untuk kesejahteraan bersama (bonum commune).

Makna “nagara” atau negara seperti ini tidak akan berarti banyak dalam situs ini, juga untuk pemahaman kehidupan dalam budaya Sunda. Kata “Na ga ra” harus dibaca dari belakang “Ra ga na”. Kata tersebut dilengkapi dengan kata bantu “dina” supaya lebih mengangkat makna terdalam dari nama situs tersebut. Lengkapnya menjadi “Dina Ragana”. Jelaslah apa yang dimaksud: “di dalam raga” atau badan.

Teka teki terjawab: jiwa, atau yang memberi gerak dan langkah pada raga. Jiwa menjadi isi bagi badan atau wadah. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan tidak berkedudukan secara hirarkis. Jiwa memancarkan kemampuannya melalui tubuh. Jiwa menggantungkan diri secara simbiotik saling menghidupi dengan badan. Badan dalam pemahaman demikian tidak berarti penjara bagi jiwa. Badan menyalurkan kemampuan jiwa.

Badan mencerminkan kualitas jiwa yang dikandungnya. Badan memiliki kedudukan penting karena wadah ialah cermin bagi isi. Keduanya “menjadi kesatuan yang saling melengkapi dengan kekhasan, yakni kedudukan dan tugasnya masing-masing. Kesatuan ini tampil diungkapkan dengan metafor “Diri”. “Diri” merupakankesatuan jiwa-badan.

Tanpa kesatuan dalam “diri” hidup manusia tidak berarti. Metafor “Diri” pun merupakan permainan suku kata dari “Da” dan “Ra”. “Da” bermakna semesta dan “Ra” mengarah pada cahaya. Permainan suku kata atau aksara Sunda ini menempatkan “Diri” sebagai “Cahaya Semesta”. Makna permainan kata berdasarkan aksara ini menempatkan “diri” di tengah-tengah. “Posisi tengah” digambarkan dengan metafor puitik “Buana Pancer Tengah”. “Tengah” memang sangat mudah diartikan “pusat”. Secara diagramatik, tengah selalu mengacu pada pusat. Posisi “Tengah” dalam konteks buana pancer tengah atau diri sebagai cahaya semesta merujuk pada makna “di antara”. Posisi ini berfungsi menjaga keterjalinan (bukan keseimbangan) antarunsur yang berada di sekitarnya.

Unsur-unsur itu tidak merujuk dan bergantung pada posisi tengah. Rujukan dan ketergantungan unsur pada posisi tengah hanya akan menunjukkan diri sebagai pusat semesta. Dalam pemahaman ini, diri adalah cahaya semesta, yang menerangi atau gerak ke luar. Ia bukan pusat yang bersifat menarik atau gerak ke dalam (sentripetal). Diri manusia hanyalah bagian dari percikan Cahaya Ilahi. Ia hanya dititipi cahaya sebagai kekuasaan untuk menata dan memelihara semesta.

Metafor “buana pancer tengah”, sekaligus Diri berarti “buana” atau jagat kecil, yang dibandingkan dengan pemangku sejati kekuasaan atas semesta, Jagat Besar. Tugas menata dan mengelola semesta beserta isinya bisa terungkap dengan permainan kata “dari belakang ke depan”. Metafor “buana pancer tengah” bisa dibaca sebagai “tengah pancer buana”. Diri mejadi “tengah” yang menerangi (pancer) jagat (buana). Inilah makna spiritual dari “Diri”.

Diri merupakan topologi holistik yang merangkum unsur badan dan jiwa, yang menghubungkan semesta dengan Yang Kuasa. Karena itulah, “Diri” menjadi pokok berpikir yang selalu berulang. Demikian pentingnya, “Diri” menjadi ukuran dalam pembelajaran dan penilaian. Ukuran pembelajaran dilakukan dengan “membaca alam” dan mengekspresikan hasil pembelajaran (membaca alam) dengan perilaku sehari-hari. Dalam konteks inilah “Batu” pada situs Nagara Padang dimengerti sebagai sarana pembelajaran.

13. Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Tanggara: batu berbentuk tugu. Di atas tugu itu terdapat tatahan ibu jari. Ungkara: Batu Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Uga: Batu ini menjadi simbol untuk mensyukuri (nuhunkeun) prinsip dan keutamaan silihwangi pada Yang Kuasa. Batu ini masih berhubungan dengan Batu Bumi Agung, dan Batu Korsi Gading. Prinsip silih asih, silih asah dan silih asuh dan prinsip welas asih atau rohman rohim berkaitan dengan keutamaansilihwangi. Silihwangi berarti saling menghormati, saling menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Setiap orang tanpa pandang bulu memiliki tugas untuk saling hormat dan saling menjunjung martabat dan harkat kemanusiaan. Karena itu, seseorang perlu mensyukuri (nuhunkeun) keutamaan ini kepada Yang Kuasa karena secara kodrati manusia sudah dititipi kemampuan ini dan memangmampu merealisasi keutamaan ini dalam hidup sehari-hari. Mensyukuri berarti mengingat dan memperlakukan keutamaan itu berdasarkan keyakinan yang dipegang. 14. Lawang Tujuh Tanggara: Pintu menunjukkan jalan atau jalur. Tujuh mengarah pada jumlah hari dalam satu minggu. Ungkara: Batu Lawang Tujuh atau Pintu Tujuh. Uga: Batu ini menyimbolkan perjalanan menempuh “jalur” hidup yang sudah ditentukan berdasarkan waktu kelahiran (7 hari). Setiap orang mempunyai “jalan”nya masing-masing untuk mewujudkan visi dan misinya. Jalan itu sudah diberikan berdasarkan hari kelahiran. Tugas manusia untuk menjalani jalur itu berdasarkan pada visi dan misinya. Jalur tersebut akan mengembalikan kita kepada Yang Kuasa, yang menjadi pusat dan bersemayam dalam diri manusia. 15. Padaringan (leuit Salawe Jajar) Tanggara: Jajaran batu megalitik yang melingkar. Ungkara: Batu Padaringan. Padaringan berarti juga leuit atau lumbung padi. Lumbung padi itu digambarkan berjumlah 25 dan letaknya sejajar. Uga: Batu ini menyimbol lumbung padi (leuit atau padaringan) menandai kesejahteraan manusia dan pencapaian kepenuhan hidup sebagai manusia. Kesejahteraan itu hendak dialami nuansa kebersamaan. Nuansa kebersamaan ini digambarkan dengan posisi sejajar. Di sinilah keutamaan Sapajajaran dikenali. Adalah tugas seseorang yang sudah mencapai keberhasilan dan kedudukan untuk menyejahterakan bumi atau semesta beserta isinya. Menyejahterakan bumi dan seisinya ibarat mengisi lumbung, atau menyediakan sumber kehidupan bagi tanah air dan bangsa. Visi dan misi seseorang tercapai jika ia mampu menjadi pengemban kekuasaan Ilahi untuk membagikan kesejahteraan bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Ia mengikuti peran Ibunya yang menyusui dan mengasuh anak tanpa memandang anak ini kelak berbuat kebaikan atau kejahatan. Membagikan kesejahteraan bagi bumi dan sesama menandai keadilan. Prinsip keadilan mengejawantahkan keutamaan sapajajaran. Pada dasarnya manusia tidak mengenal pembedaan berdasarkan status lahir. Berdasarkan kodratnya manusia dalam keragamannya sejajar satu sama lain, juga berdasarkan kodratnya, manusia pun sejajar dengan mahluk lain karena sama-sama ciptaan. Demikian juga kesejajaran itu dihayati dalam relasi manusia dengan alam semesta. 16. Puncak Manik Tanggara: Tanah datar yang dikelilingi bebatuan besar membentuk cincin. Ungkara: Puncak Manik. Manik berarti wadah. Dalam wadah itu terjadi persatuan antara Diri dengan Semesta dan Yang Kuasa. Persatuan itu digambarkan pula dengan kembalinya manusia ke asalnya ketika ia mencapai tujuannya. Uga: Batu ini menjadi simbol untuk pencapaian dan perwujudan visi – misi pribadi serta kembalinya atau bersatunya manusia dengan Semesta dan Yang Kuasa. Usaha mewujudkan visi dan misi mengenal batas. Batas itu ialah puncak keberhasilan dan kedudukan. Puncak berarti sudah tercapai visi dan misi atau visi dan misi “sudah di tangan”. Imperatif berikutnya ialah segeralah menggunakan kedudukan dan keberhasilan, atau kemampuan untuk beramal ibadah, berbakti dan berbagi (“Tereh make salawasna”) Kemampuan ini yang disebut mewujudkan manusia yang manusiawi, yang bukan hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Puncak manik juga berarti kembalinya seseorang pada jatidirinya yang asali. Jatidiri setiap manusia ialah persatuan dengan asal dan tujuan hidup: Yang Kuasa, “Sang Diri”. Peristiwa ini kemudian diberinama “pulang”. Inilah sebenarnya pencapaian tertinggi usaha dan kekuasaan manusia. Keunggulan dan kewibawaan pada akhirnya akan kembali. Penutup Situs Nagara Padang mengandung permainan aksara dan bunyi pada kata “Nagara”. Kata tersebut berupa siloka (teka-teki) yang membuat pembaca berpikir tentang makna. Jika “na ga ra” dibaca seperti tertulis, maka alam pikir bahasa Indonesia memberinya makna pada pelembagaan atau organisasi kolektivitas manusia berdasarkan tujuan yang sama dan dibangun untuk kesejahteraan bersama (bonum commune). Makna “nagara” atau negara seperti ini tidak akan berarti banyak dalam situs ini, juga untuk pemahaman kehidupan dalam budaya Sunda. Kata “Na ga ra” harus dibaca dari belakang “Ra ga na”. Kata tersebut dilengkapi dengan kata bantu “dina” supaya lebih mengangkat makna terdalam dari nama situs tersebut. Lengkapnya menjadi “Dina Ragana”. Jelaslah apa yang dimaksud: “di dalam raga” atau badan. Teka teki terjawab: jiwa, atau yang memberi gerak dan langkah pada raga. Jiwa menjadi isi bagi badan atau wadah. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan tidak berkedudukan secara hirarkis. Jiwa memancarkan kemampuannya melalui tubuh. Jiwa menggantungkan diri secara simbiotik saling menghidupi dengan badan.

Badan dalam pemahaman demikian tidak berarti penjara bagi jiwa. Badan menyalurkan kemampuan jiwa. Badan mencerminkan kualitas jiwa yang dikandungnya. Badan memiliki kedudukan penting karena wadah ialah cermin bagi isi. Keduanya “menjadi kesatuan yang saling melengkapi dengan kekhasan, yakni kedudukan dan tugasnya masing-masing. Kesatuan ini tampil diungkapkan dengan metafor “Diri”.

“Diri” merupakan kesatuan jiwa-badan. Tanpa kesatuan dalam “diri” hidup manusia tidak berarti. Metafor “Diri” pun merupakan permainan suku kata dari “Da” dan “Ra”. “Da” bermakna semesta dan “Ra” mengarah pada cahaya. Permainan suku kata atau aksara Sunda ini menempatkan “Diri” sebagai “Cahaya Semesta”. Makna permainan kata berdasarkan aksara ini menempatkan “diri” di tengah-tengah. “Posisi tengah” digambarkan dengan metafor puitik “Buana Pancer Tengah”. “Tengah” memang sangat mudah diartikan “pusat”. Secara diagramatik, tengah selalu mengacu pada pusat. Posisi “Tengah” dalam konteks buana pancer tengah atau diri sebagai cahaya semesta merujuk pada makna “di antara”. Posisi ini berfungsi menjaga keterjalinan (bukan keseimbangan) antarunsur yang berada di sekitarnya. Unsur-unsur itu tidak merujuk dan bergantung pada posisi tengah. Rujukan dan ketergantungan unsur pada posisi tengah hanya akan menunjukkan diri sebagai pusat semesta.

Dalam pemahaman ini, diri adalah cahaya semesta, yang menerangi atau gerak ke luar. Ia bukan pusat yang bersifat menarik atau gerak ke dalam (sentripetal). Diri manusia hanyalah bagian dari percikan Cahaya Ilahi. Ia hanya dititipi cahaya sebagai kekuasaan untuk menata dan memelihara semesta. Metafor “buana pancer tengah”, sekaligus Diri berarti “buana” atau jagat kecil, yang dibandingkan dengan pemangku sejati kekuasaan atas semesta, Jagat Besar. Tugas menata dan mengelola semesta beserta isinya bisa terungkap dengan permainan kata “dari belakang ke depan”. Metafor “buana pancer tengah” bisa dibaca sebagai “tengah pancer buana”. Diri mejadi “tengah” yang menerangi (pancer) jagat (buana). Inilah makna spiritual dari “Diri”.

Diri merupakan topologi holistik yang merangkum unsur badan dan jiwa, yang menghubungkan semesta dengan Yang Kuasa. Karena itulah, “Diri” menjadi pokok berpikir yang selalu berulang. Demikian pentingnya, “Diri” menjadi ukuran dalam pembelajaran dan penilaian. Ukuran pembelajaran dilakukan dengan “membaca alam” dan mengekspresikan hasil pembelajaran (membaca alam) dengan perilaku sehari-hari. Dalam konteks inilah “Batu” pada situs Nagara Padang dimengerti sebagai sarana pembelajaran. Permainan aksara “Baca” dari “ba” dan Tulis dari “tu” menunjukkan kesinambungan antara ekspresi pikiran dan rasa melalui tubuh.

Kesinambungan penalaran, emosi dan motivasi ini mendorong orang untuk memperlakukan apa saja yang “dibacanya” dari semesta. Ukuran penilaian perilaku dikembalikan pada “Diri”. Karenanya dikenal istilah “ngaji diri” agar penilaian perilaku tidak dilakukan tanpa dasar. Istilah “ngaji diri” mengukur perilaku diri ke dalam dahulu, sebelum menilai orang lain, atau menilai ke luar. Apalagi penilaian tentang baik dan buruk, diri harus menjadi asal refleksi sebelum melontarkan keputusan mengenai perilaku dan kehidupan sesama. Tuntutan “ngaji diri” ini membuat seorang Sunda yang kerap berefleksi bersikap diam menghadapi berbagai sikap dan perilaku yang cenderung destruktif; atau ditanggapi dengan senyum. Sikap “diam” bukan berarti tidak tanggap. Sikap diam juga menunjukkan bahwa kepekaan membaca situasi atau konteks.

Konteks akan membantu seseorang menentukan dan menilai sesuatu benar atau salah, baik atau buruk. Awalan “ngaji diri” bermuara pada sikap jembar atau padang. Sikap padang mengarah pada kemampuan memadukan berbagai macam unsur yang mengondisikan sebuah peristiwa terjadi.

Pemaduan ini memerlukan wawasan: mencermati secara luas dan detil keragaman pembentuk sebuah peristiwa. Karena itu kemampuan “ngaji diri” untuk menilai peristiwa atau perilaku berkaitan dengan pengalaman mengolah diri dan menata diri, membiasakan diri menjadi terang. Karena itu, kembali ke “Diri” justru bukan tanda relativisme berlaku dalam khazanah Sunda. Kembali ke “diri” sebagai terang batin justru menghubungkan manusia, per pribadi dengan lingkungan di sekitarnya.

http://www.kalangsunda.net/situsgunungpadang.htm http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1611314181352&set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=3&theater https://sasananuswantara.wordpress.com/2011/03/08/falsafah-diri-dan-kemanusiaan-di-nagara-padang/ http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=1 Sekilas Gunung Padang:Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Penemuan Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat “terlupakan”, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat “kabuyutan” (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan. ^ a b Situs Peninggalan Zaman Megalitikum di Gunung Padang Kian Terbengkalai. kapanlagi.com Edisi 08 September 2005^ a b Jafar M. Sidik. Menerawangi “Indonesia Tua” di Gunung Padang. Antara daring. Edisi 17 September 2009^ Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir Musical Tradition in Megalithic Site of Indonesian Gunung Padang?^ Budi Brahmantyo. Keagungan Situs Megalitik Gunung Padang. Pikiran Rakyat. Edisi 20 Januari 2006.a “Baca” dari “ba” dan Tulis dari “tu” menunjukkan kesinambungan antara ekspresi pikiran dan rasa melalui tubuh. Kesinambungan penalaran, emosi dan motivasi ini mendorong orang untuk memperlakukan apa saja yang “dibacanya” dari semesta. Ukuran penilaian perilaku dikembalikan pada “Diri”. Karenanya dikenal istilah “ngaji diri” agar penilaian perilaku tidak dilakukan tanpa dasar. Istilah “ngaji diri” mengukur perilaku diri ke dalam dahulu, sebelum menilai orang lain, atau menilai ke luar. Apalagi penilaian tentang baik dan buruk, diri harus menjadi asal refleksi sebelum melontarkan keputusan mengenai perilaku dan kehidupan sesama. Tuntutan “ngaji diri” ini membuat seorang Sunda yang kerap berefleksi bersikap diam menghadapi berbagai sikap dan perilaku yang cenderung destruktif; atau ditanggapi dengan senyum. Sikap “diam” bukan berarti tidak tanggap. Sikap diam juga menunjukkan bahwa kepekaan membaca situasi atau konteks. Konteks akan membantu seseorang menentukan dan menilai sesuatu benar atau salah, baik atau buruk. Awalan “ngaji diri” bermuara pada sikap jembar atau padang. Sikap padang mengarah pada kemampuan memadukan berbagai macam unsur yang mengondisikan sebuah peristiwa terjadi. Pemaduan ini memerlukan wawasan: mencermati secara luas dan detil keragaman pembentuk sebuah peristiwa. Karena itu kemampuan “ngaji diri” untuk menilai peristiwa atau perilaku berkaitan dengan pengalaman mengolah diri dan menata diri, membiasakan diri menjadi terang. Karena itu, kembali ke “Diri” justru bukan tanda relativisme berlaku dalam khazanah Sunda. Kembali ke “diri” sebagai terang batin justru menghubungkan manusia, per pribadi dengan lingkungan di sekitarnya. http://www.kalangsunda.net/situsgunungpadang.htm http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1611314181352&set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=3&theater https://sasananuswantara.wordpress.com/2011/03/08/falsafah-diri-dan-kemanusiaan-di-nagara-padang/ http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=1 Sekilas Gunung Padang:Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Penemuan Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat “terlupakan”, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat “kabuyutan” (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.

Referensi:

^ a b Situs Peninggalan Zaman Megalitikum di Gunung Padang Kian Terbengkalai. kapanlagi.com Edisi 08 September 2005^ a b

Jafar M. Sidik. Menerawangi “Indonesia Tua” di Gunung Padang. Antara daring. Edisi 17 September 2009

^ Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir Musical Tradition in Megalithic Site of Indonesian Gunung Padang?

^ Budi Brahmantyo. Keagungan Situs Megalitik Gunung Padang. Pikiran Rakyat. Edisi 20 Januari 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s