FILSAFAT, JATIDIRI & AMANAH LELUHUR

FILSAFAT, JATIDIRI & AMANAH LELUHUR

Kehidupan ber-Filsafat

Banyak kita dengar para ilmuwan negara-negara tetangga silih berganti berlomba memberikan kontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan. Berbanding jumlah penduduknya Indonesia saat ini dikaitkan dengan kondisi kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia saat ini maka memang kiranya kita perlu prihatin karena nama Indonesia jarang tersebut dalam kontribusi kemajuan ilmu pengetahuan dunia, apalagi penemuan teknologi yang bisa memberikan kontribusi luas bagi kemajuan kesejahteraan hidup bangsa Indonesia.

Lalu apa penyebabnya? Di negeri lain, pemerintahnya dengan sadar mengutamakan mata pelajaran yang bersifat mengarah pada pembentukan karakter seperti filsafat, seni, dan sastra sedangkan sistem pendidikan dasar di Indonesia hanya cukup puas dengan metode calistung atau baca, tulis, dan berhitung saja.

Ada korelasi mendasar dalam pendidikan model Barat dimana sejak anak usia dini telah diberikan dasar filsafat. Filsafat sebenarnya harus ditanamkan sedini mungkin, sebab, filsafat berkaitan erat dengan kehidupan. Masalah “calistung” hanya merupakan penyelesaian masalah teknis di kehidupan. Mengajarkan filsafat pada anak-anak merupakan solusi yang baik untuk membentuk kepribadian anak serta untuk mengajarkan hakikat kehidupan.

Menyontek dari Wikipedia, Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Pada kasus-kasus yang ada, seorang anak seringkali bertanya kepada orang tua dengan pertanyaan yang mungkin jauh melebihi pemikiran anak seusianya, misalnya, “Ayah kenapa aku bisa ada di dunia ini?”, atau “Ibu, kenapa orang bisa mati, lalu besoknya ada bayi yang lahir?”. Barangkali untuk sebagian orang tua akan susah menjawab pertanyaan si anak. Pertanyaan di atas sebenarnya menyangkut pada identitas manusia.

Dalam filsafat dikenal sebagai konsep dari keber”Ada”an. Manusia Ada dan meng-Ada. Para ilmuwan mendefinisikan Ada sebagai kebermulaan dari sebuah kehidupan. Dalam konteks agama, Ada ini didefinisikan sebagai Tuhan yang menciptakan kehidupan dan segala isinya. Dapatkah hal ini dijelaskan dalam bahasa anak-anak?Anak-anak usia berkembang merupakan usia anak yang serbaingin tahu. Melihat fenomena yang ada di sekelilingnya selalu menarik keingintahuannya.

Psikomotoriknya bergerak, melihat segala sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Oleh karena itu, wajarlah jika anak sering melontarkan pertanyaan yang barangkali terlalu cepat ditanyakan pada anak seusia tersebut.

Tentunya, pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dengan eksistensi kehidupan tidak mungkin dijawab dengan metode “calistung” saja bukan? Untuk menjawab sebuah pertanyaan tentang kehidupan, seorang anak harus dibekali wawasan pengetahuan lain yang mampu menjabarkan apa yang tersurat di dalam agama. Mengacu pada pemikiran Aristoteles yang mengemukakan bahwa Agama, Filsafat, dan Sastra adalah beberapa hal yang mampu membawa manusia menuju kebenaran. Sastra dan Filsafat bersumber pada Agama. Agama sebagai pedoman hidup, lalu Filsafat dan Sastra sebagai jalan menuju pedoman manusia tersebut.

Mengajarkan filsafat pada anak secara perlahan akan membentuk keintelektualan yang terintegrasi. Berapa banyak pemikir-pemikir muda di Indonesia ini? Bangsa ini selalu menganggap bahwa seseorang dikatakan pintar atau jenius jika ia menguasai sains dan teknologi. Kenyataannya, para ahli sains dan teknologi pun masih kewalahan untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Mereka terlalu sering menggunakan otak kiri, namun otak kanannya jarang sekali dimaksimalkan.

Otak kanan adalah kemampuan otak dalam hal-hal seni, sastra, dan filsafat. Oleh karena itu, kini para ilmuwan dan dokter menganjurkan untuk membaca sastra, bermain dan mendengarkan musik (terutama klasik dan jazz), serta teater. Selain untuk menyeimbangkan fungsi otak kanan, juga sebagai sarana untuk kembali “menyadarkan” kesadaran manusia yang hanyut dalam teori-teori sains.

Beberapa keuntungan mengajarkan ilmu Filsafat kepada anak, salah satunya ialah menjadikan anak memiliki kemapuan menalar yang baik. Pada dasarnya dunia ini terdiri dari banyak tanda. Sama seperti dalam karya sastra, tanda-tanda tersebut akan menjadi baik bila manusia mahir menafsirkannya. Namun, jika kita salah menafsirkan tanda-tanda tersebut malah akan menjerumuskan manusia.

Anak-anak haruslah sudah mampu membaca tanda di sekelilingnya, agar tidak terjadi lagi anak-anak yang nantinya malah akan terjerumus menjadi generasi yang kotor dan salah. Salah satu contoh pembelajaran filsafat pada anak adalah ketika seorang guru bertanya kepada muridnya tentang apa yang ada di balik tembok kelas. Murid-murid menjawab di balik tembok kelas ada jalan raya, halaman, mobil, dan lapangan basket. Guru tersebut tersenyum dan berkata bahwa jawaban mereka semuanya salah. Lantas guru tersebut menjawab bahwa yang ada di balik tembok itu adalah cat yang menutupi lapisan tembok.

Sangat sederhana memang, namun itulah hakikat dari filsafat. Filsafat mengajarkan hal-hal yang tidak mampu didefinisikan oleh ilmu apa pun, sebab filsafat adalah sumber dari segala cabang ilmu pengetahuan. Tanda-tanda yang telah disebutkan oleh mruid-murid di atas adalah tanda yang bersifat konvensional, namun mereka lupa bahwa tanda yang dekat dan bahkan kita tidak menyadarinya sangat berperan dan berpengaruh dalam kehidupan.

Seringkali dalam pandangan orang, Filsafat mengajarkan Atheis. Pernyataan itu tentunya sama sekali tidak benar. Filsafat sangat berkaitan erat dengan agama. Keatheisan yang muncul dalam filsafat didasarkan pada pemahaman yang berbeda dari masing-masing orang tentang konsep keber”Ada”an. Agama mana pun di dunia ini selalu berkaitan dengan filsafat untuk mendefinsikan ajarannya.

Filsafat pada dasarnya adalah “tafsir yang (ber)etika”, yakni penafsiran yang (harus) mengandung etika ketika kita memaknai suatu tanda tertentu. Agama sendiri pun butuh tafsiran untuk memaknai ajaran yang tertera pada ayat-ayat suciNya.

Menjelang masa-masa perkembangan tubuh dan pikirannya, anak-anak perlu dibekali semacam pengetahuan tentang hakikat kehidupan. Tujuannya adalah untuk mengarahkan pemikiran anak-anak ke pemikiran yang berintelektual. Ada kalanya orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anak. Jika asal menjawab maka selamanya anak akan mengacu pada jawaban itu. Misalnya ketika mengapa kita harus takut pada hantu, orang tua akan menjawab karena hantu akan menggigit manusia. Sebenarnya maksud orang tua bukan untuk menakut-nakuti, tetapi jika anak tidak dibekali kemampuan menafsir yang baik, secara otomatis ia akan takut pada hantu seumur hidupnya.

Ada kalanya anak sendirilah yang harus mencari sendiri jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Dengan diajari filsafat, setidaknya ia mampu memahami realitas-realitas kehidupan yang baru dan sama sekali belum pernah dilihatnya. Filsafat mengajarkan kontinuitas berpikir manusia, bukan untuk membuat mandeg pikiran manusia.

Filsafat dan Jati Diri

Jati diri manusia merupakan unitas dan kompleksitas di dalam diri manusia. Dengan maksud, manusia sebagai kesatuan utuh yang mencakup kepribadian, identitas diri, dan keunikan diri. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Karena mereka merupakan aspek-aspek yang intregal.

Selain itu jati diri manusia mengalami perkembangan karena manusia terlibat di dalam interaksi dengan lingkungan sekitar. Dengan begitu, jati diri manusia merupakan sesuatu yang dinamis.

Uraian di atas menunjukkan bahwa jati diri manusia sebagai pengada aktual bagi pengetahuan yang dinamis dan berproses. Dalam artian, manusia merupakan kesatuan unsur dan tahap dari tahap paling rendah ke tahap paling tinggi. Ketika manusia mencapai tahap rasional, tahap tertinggi, ia terdorong untuk menemukan pembaruan dan dengan pengetahuannya mengatasi keterbatasan dengan menciptakan alat untuk membantunya. Kemampuan itu telah menunjukkan bahwa jati diri manusia merupakan kesatuan subjek pengada aktual.

Keunikan dan kekhasan jati diri merupakan proses pembentukan diri sebagai pengada aktual. Pembentukan diri itu mengunakan tiga tahap pengumpulan dan pengolahan data, dan kepenuhan jati diri. Pengumpulan data merupakan data manusia yang tidak berubah dan mancapai kepenuhannya. Kepenuhan ini telah melahirkan sistem nilai yang ada di dunia, masyarakat, dan masa lampau (leluhurnya). Dikehendaki, nilai itu dilestarikan dengan ditawarkan pada pengada baru. Pengelolaan data adalah proses pembentukan citra diri. Citra diri adalah prinsip mengarah kepada kepenuhan. Kepenuhan merupakan keputusan terakhir dari jati diri yang pasti dan sudah tidak kurang dan lebih. Setelah ini pengada menjadi kekayaan dunia karena manjadi bahan baru untuk diolah dan dijadikan nilai pribadi.

Proses ini merupakan kegiatan intelektual manusia. Kegiatan intelektual yang membentuk keunikan dan kesatuan yang menggambarkan “masyarakat” yang memahami amanah leluhurnya dalam perilaku budaya setempat. Di dalam manusia terdapat berbagai bagian-bagaian yang berbeda. Namun, keseluruhannya saling tergantung dan membentuk satu kesatuan yang utuh sebagai kesatuan.

Filsafat, Jati Diri dan Amanah leluhur

SILSILAH

Bangsa Indonesia sungguh berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi. Perbedaan paling mencolok adalah jerih payahnya saat membangun dan merintis berdirinya bangsa sebesar nusantara ini. Kita semua paham bila berdirinya bangsa dan negara Indonesia berkat perjuangan heroik para leluhur kita. Dengan mengorbankan harta-benda, waktu, tenaga, pikiran, darah, bahkan pengorbanan nyawa. Demi siapakah ? Bukan demi kepentingan diri mereka sendiri, lebih utama demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak turunnya, para generasi penerus bangsa termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini. Penderitaan para leluhur bangsa bukanlah sembarang keprihatinan hidup.

para leluhur perintis bangsa zaman dahulu telah melakukan beberapa laku prihatin yang teramat berat dan sulit dicari tandingannya sebagai berikut;

1.  Tapa Ngrame; ramai dalam berjuang sepi dalam pamrih mengejar kepentingan pribadi.

2.  Tapa Brata; menjalani perjuangan dengan penuh kekurangan materiil. Perjuangan melawan kolonialism tidak hanya dilakukan dengan berperang melawan musuh, namun lebih berat melawan nafsu pribadi dan nafsu jasad (biologis dan psikis).

3.  Lara Wirang; harga diri dipermalukan, dihina, ditindas, diinjak, tak dihormati, dan nenek moyang bangsa kita pernah diperlakukan sebagai budak di rumahnya sendiri.

4.  Lara Lapa; segala macam penderitaan berat pernah dialami para leluhur perintis bangsa.

5.  Tapa Mendhem; para leluhur banyak yang telah gugur sebelum  merdeka, tidak menikmati buah yang manis atas segala jerih payahnya. Berjuang secara tulus, dan segala kebaikannya dikubur sendiri dalam-dalam tak pernah diungkit dan dibangkit-bangkit lagi.

6.  Tapa Ngeli; para leluhur bangsa dalam melakukan perjuangan kepahlawanannya dilakukan siang malam tak kenal menyerah. Penyerahan diri hanya dilakukan kepada Hyang Mahawisesa (Tuhan Yang Mahakuasa).

Itulah kelebihan leluhur perintis bumi nusantara, suatu jasa baik yang mustahil kita balas. Kita sebagai generasi penerus bangsa telah berhutang jasa (kepotangan budhi) tak terhingga besarnya kepada para perintis nusantara. Tak ada yang dapat kita lakukan, selain tindakan berikut ini :

  1. Memelihara dan melestarikan pusaka atau warisan leluhur paling berharga yakni meliputi tanah perdikan (kemerdekaan), hutan, sungai, sawah-ladang, laut, udara, ajaran, sistem sosial, sistem kepercayaan dan religi, budaya, tradisi, kesenian, kesastraan, keberagaman suku dan budaya sebagaimana dalam ajaran Bhinneka Tunggal Ikka. Kita harus menjaganya jangan sampai terjadi kerusakan dan kehancuran karena salah mengelola, keteledoran dan kecerobohan kita. Apalagi kerusakan dengan unsur kesengajaan demi mengejar kepentingan pribadi.
  2. Melaksanakan semua amanat para leluhur yang terangkum dalam sastra dan kitab-kitab karya tulis pujangga masa lalu. Yang terekam dalam ajaran, kearifan lokal (local wisdom), suri tauladan, nilai budaya, falsafah hidup tersebar dalam berbagai hikayat, cerita rakyat, legenda, hingga sejarah. Nilai kearifan lokal sebagaimana tergelar dalam berbagai sastra adiluhung dalam setiap kebudayaan dan tradisi suku bangsa yang ada di bumi pertiwi. Ajaran dan filsafat hidupnya tidak kalah dengan ajaran-ajaran impor dari bangsa asing. Justru kelebihan kearifan lokal karena sumber nilainya merupakan hasil karya cipta, rasa, dan karsa melalui interaksi dengan karakter alam sekitarnya. Dapat dikatakan kearifan lokal memproyeksikan karakter orisinil suatu masyarakat, sehingga dapat melebur (manjing, ajur, ajer) dengan karakter masyarakatnya pula.
  3. Mencermati dan menghayati semua peringatan (wewaler) yang diwasiatkan para leluhur, menghindari pantangan- pantangan yang tak boleh dilakukan generasi penerus bangsa. Selanjutnya mentaati dan menghayati himbauan-himbauan dan peringatan dari masa lalu akan berbagai kecenderungan dan segala peristiwa yang kemungkinan dapat terjadi di masa yang akan datang (masa kini). Mematuhi dan mencermati secara seksama akan bermanfaat meningkatkan kewaspadaan dan membangun sikap eling.
  4. Tidak melakukan tindakan lacur, menjual pulau, menjual murah tambang dan hasil bumi ke negara lain. Sebaliknya harus menjaga dan melestarikan semua harta pusaka warisan leluhur. Jangan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, “menggunting dalam lipatan”.
  5. Merawat dan memelihara situs dan benda-benda bersejarah, tempat yang dipundi-pundi atau pepunden (makam) para leluhur. Kepedulian kita untuk sekedar merawat dan memelihara makam leluhur orang-orang yang telah menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa, termasuk dalam mendoakannya agar mendapat tempat kamulyan sejati dan kasampurnan sejati di alam kelanggengan merupakan kebaikan yang akan kembali kepada diri kita sendiri. Tak ada  buruknya kita meluhurkan leluhur bangsa asing dengan dalih apapun; agama, ajaran, budaya, ataupun sebagai ikon perjuangan kemanusiaan. Namun demikian hendaknya leluhur sendiri tetap dinomorsatukan dan jangan sampai dilupakan bagaimanapun juga beliau adalah generasi pendahulu yang membuat kita semua ada saat ini. Belum lagi peran dan jasa beliau-beliau memerdekakan bumi pertiwi menjadikan negeri ini menjadi tempat berkembangnya berbagai agama impor yang saat ini eksis. Dalam falsafah hidup Kejawen ditegaskan untuk selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Mengerti asal muasalnya hingga terjadi di saat ini. Dengan kata lain ; kacang hendaknya tidak melupakan kulitnya.
  6. Hilangkan sikap picik atau dangkal pikir (cethek akal) yang hanya mementingkan kelompok, gender atau jenis kelamin, golongan, suku, budaya, ajaran dan agama sendiri dengan sikap primordial, etnosentris dan rasis. Kita harus mencontoh sikap kesatria para pejuang dan pahlawan bumi pertiwi masa lalu. Kemerdekaan bukanlah milik satu kelompok, suku, ras, bahkan agama sekalipun. Perjuangan dilakukan oleh semua suku dan agama, kaum laki-laki dan perempuan, menjadikan kemerdekaan sebagai anugrah milik bersama seluruh warga negara Indonesia.

Semoga tulisan ini menggugah kita untuk ber-filsafat dalam kehidupan agar kita semakin matang untuk dapat menyelesaikan krisis multi dimensi bangsa Indonesia ini dengan arif bijaksana sesuai dengan kepribadian diri dan bangsa.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s