Kisah Dibalik Wanita Muslimah dari Tanah Pasundan

Kisah Di Balik Wanita Muslimah dari Tanah Pasundan

Kisah Dibalik Wanita Muslimah dari Tanah Pasundan
Situs Subang Larang di Desa Nangerang, Kecamatan Binong Subang menjadi destinasi wisata religi alternatif baru di Jawa Barat. Siapa sebenarnya wanita muslimah dari Tanah Pasundan yang kini ramai dibicarakan masyarakat setempat.

Kawasan Teluk Agung yang terletak di Desa Nanggerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, mendadak ramai dikunjungi oleh masyarakat dan para pejabat tinggi negara setempat. Ternyata, kawasan yang juga dikenal Astana Panjang atau Muara Jati ini merupakan saksi sejarah riwayat perjalanan hidup seorang tokoh legendaris wanita tatar Pasundan (Jawa Barat) pada sekitar abad 16-17 masehi yang juga merupakan istri Prabu Siliwangi, yakni Nyi Subang Larang, ditemukan.

Uniknya, ternyata istri Prabu Siliwangi ini seorang Muslimah dan pendiri pesantren besar di masanya. Berdasarkan data-data sejarah, di kawasan ini pula Nyi Subang Larang diyakini dimakamkan. Bagaimana sesungguhnya sosok Nyi Subang Larang ini?

Berdasarkan riwayat sejarah, Nyi Subang Larang merupakan putri Ki Gedeng Tapa yang merupakan pendiri Kerajaan Japura yang pernah mendapat cinderamata berupa mercusuar dari Laksaman Ceng Ho, pemimpin pasukan Kerajaan dari negeri China. Nyi Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum. Ketika beliau berguru kepada seorang tokoh penyebar Islam dari Pulau Bata Kabupaten Karawang, ‘Syeikh Qurra’, namanya kemudian diganti oleh Syeikh Qurra’ menjadi “Sub Ang” yang bermakna “Pahlawan Berkuda”.

Subang Larang merupakan satu dari dua tokoh srikandi atau pejuang (pahlawan) wanita Tatar Sunda pada masa itu dimana beliau merupakan figur seorang muslimah (penganut agama Islam). Beliau merupakan murid ‘Syeikh Qurra’ yang juga tokoh penyebar Islam setingkat wali yang menyebarkan Islam di wilayah Karawang.

Sepulangnya berguru kepada Syeikh Qurra, Nyi Subang Larang lantas mendirikan pesantren besar bernama “Kobong Amparan Alit” di kawasan Teluk Agung yang kini berada di lingkungan Desa Nanggerang Kecamatan Binong. Belakangan nama “Kobong Amparan Alit” berubah menjadi “Babakan Alit” yang juga berada di sekitar kawasan Teluk Agung Desa Nanggerang. Selanjutnya, Nyi Subang Larang menikah dengan Pamanah Rasa yang bergelar Prabu Siliwangi dan melahirkan beberapa orang keturunan yang kelak menjadi orang-orang besar, diantaranya Raden Kian Santang yang bergelar Pangeran Cakra Buana yang merupakan pendiri cikal bakal Kerajaan Cirebon. Raden Kian Santang sendiri merupakan seorang muslim sekaligus tokoh penyebar Islam. Demikian halnya, kerajaan Sumedang Larang, Pakuan Pajajaran dan kerajaan Sunda lainnya tidak mungkin dilepaskan dari perjalanan Nyi Subang Larang.

Tidak akan ada Cirebon, kalau tidak ada Nyi Subang Larang. Sebab sejarah tatar Sunda tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan hidup seorang Subang Larang. Pada saat menikah dengan Prabu Siliwangi, Subang Larang lantas diboyong oleh sang suami untuk tinggal di Bogor yang ketika itu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran. Namun, meskipun tinggal di Bogor, Subang Larang kerap mengunjungi pesantrennya di kawasan Teluk Agung yang sekarang terletak di Desa Nanggerang Kecamatan Binong.

Dan ketika beliau wafat, jasad atau layon-nya kemudian dibawa oleh para abdi dalemnya untuk dimakamkan di kawasan Teluk Agung tersebut. Diantara abdi dalem yang membawa jasad Nyi Subang Larang adalah tokoh yang kini dimakamkan di kawasan makam keramat Gelok yang terletak di Kp. Cipicung Desa Kosambi Kecamatan Cipunagara Subang.

Berdasarkan bukti dan penuturan sejarah yang diterima saat ini, hampir semua penduduk yakin bahwa di kawasan Teluk Agung Desa Nanggerang inilah Nyi Subang Larang pernah hidup, mendirikan pesantren besar dan dimakamkan di akhir hayatnya.

Berkaitan dengan penemuan situs Subang Larang ini pula, Pemerintah Propinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar siap mengucurkan anggaran Rp500 juta rupiah untuk revitalisasi dan pemeliharaan kawasan situs serta pemberdayaan ekonomi warga sekitar. Dan hingga saat ini, situs Subang Larang ramai dikunjungi peziarah serta diharapkan bisa menjadi tujuan wisata religi nantinya. (berbagaisumber)

Teluk Agung Muara Jati Diyakini Situs Bekas Kerajaan Japura

SUBANG, TRIBUN – Setelah beberapa kali mengunjungi lokasi di daerah Jawa Barat yang diduga sebagai makam tokoh sejarah Subang Larang, Budayawan Jawa Barat, Dasep Arifin akhirnya merasa yakin bahwa kawasan Teluk Agung Muara Jati di Desa Naggerang, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang sebagai tempat dimakamkannya Nyai Subang Larang. Selain itu kuat dugaan pula kawasan itu sebagai bekas Kerajaan Japura, sebuah kerajaan Sunda abad ke-14.

Hal itu dikatakan Dasep pada acara Bagal Dangiang Subang Larang (Pencanangan Titik Pusat Subang Larang), di kawasan hutan jati, Teluk Agung Muara Jati, Desa Naggerang, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, Kamis (30/6).

“Sebelum ke sini, saya sempat diundang datang ke daerah Suka Hujan, Malingping, Banten. Yang katanya di sana diduga ada makam Subang Larang. Tapi setelah didatangi tidak terasa auranya, dan cerita-cerita warga sekitar juga kurang mendukung, serta tidak ditemukan benda-benda pendukungnya. Beda dengan di sini. Terus di tempat lain juga ada yang mengatakan sama, tapi saya yakin di sini tempat yang sebenarnya untuk makam Subang Larang,” kata Dasep.

Sementara untuk menyebut sebagai bekas Kerajaan Japura, Dasep baru meyakini 40 persen. Ini didasarkan pada temuan artefak dan ekofak yang ditemukan masyarakat. Karena temuan itu banyak berupa bokor emas, manik-manik, gerabah, batu pipisan, kapak perunggu dan yang lainnya. Namun semua itu belum semua terkumpul di pihak yang berwenang, sebagian benda temuan masih dipegang masyarakat penemunya, bahkan sangat dimungkinkan ada yang sudah dijual.

“Saya yakin 40 persen, kawasan Teluk Agung Muara Jati merupakan bekas berdirinya kerajaan Japura. Apalagi jika ditemukan batu bekas mercusuar pemberian Laksamana Cheng Hoe di daerah Tanjung Agung, saya tambah yakin,” ujar Dasep. (*)

One response to “Kisah Dibalik Wanita Muslimah dari Tanah Pasundan

  1. Achmad Uye Subawiguna

    Berdasarkan pengetahuan saya, Ratu Subang Larang berputra (1) Raden Walangsungsang (bukan Kian Santang) kemudian bergelar Pangeran Cakrabuana pendiri Cirebon. (2) Lara Santang dan (3) Raden Jaka Sengara….. Sampai saat ini belum ada keterangan sejarah yang pasti tentang KIAN SANTANG. Saya agak kecewa dengan para akhli Sejarah.. hingga saat ini khususnya tentang Kerajaan Pajajaran (Prabu Siliwangi) tidak lagi berkomentar tentang cerita2 pantun yang langsung diyakini sebagai kebenaran sejarah. Bisa saja ini menyesatkan… setiap pihak merasa pasti akan versinya…..
    Apalagi saat ini ada film yang katanya hanya cerita fiksi.., tetapi tokoh2nya pelaku sejarah utama. Disamping itu keberadaan tokoh Kian Santang yang menjadi putra Subang Larang….Dalam film tersebut saya menilai bahwa Tokoh Siliwangi tidak mencerminkan Sri Baduga Maharaja… Tokoh Subang Larang juga tidak ditampilkan sebagai Ratu Yang Agung, cenderung frustasi dan teriak2 waktu mengalami cobaan, bahkan mau bunuh diri…. Kasihan…..cenderung melecehkan kepribadian Sang Ratu…, Tidak ada yang protes para akhli sejarah? Bagaimana Sensor?
    Semoga saya mendapat penjelasan tentang ini……../.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s