Situs Cibalay : Mencari Jejak Pajajaran

Situs Cibalay : Mencari Jejak Pajajaran Apr 21, ’08 9:58 AM
untuk semuanya
Tandang menak Pajajaran
Kadiya banteng bayangan
Sinatria pilih tanding
Tohpati jiwa jeung raga
Seja angkat mapag juritNajan di luhur langit
Hamo burung rek disusul
Sumujud ka ingkang rama
Prabu Agung Silihwangi
Layang domas layang domas didamel jimat nolak balaSinatria Pajajaran
Putra silih Silihwangi
Estu panceg mamanahan
Seja moal waka mulih

Najan nemahan pati
Mun guriang tacan tumpur
Ngesto ka ibu ka rama
Sumambat ka Maha Suci
Teguh pengkug teguh pengkuh, henteu unggut kalinduan

——-(Tembang Salaka Domas)—–

Jalanan masih sepi sekali. Udara dingin Bogor masih menyusup ke jemari dan cuping. Kutarik gas motor sekencang-kencangnya. Jam baru menunjukkan 5:30 pagi. Setengah jam lagi aku harus sudah sampai di saung teman di daerah Tapos Cibitung Tengah. Minggu pagi itu, 23 Maret 2008, dua orang teman sudah menunggu di saungnya. Mereka sudah bermalam di sana. Karena ada suatu acara aku tidak ikut menginap. Kujanjikan jam 6:00 sudah sampai di gubuk atas kolam ikan temanku untuk bersama pergi ke Situs Cibalay – Tenjolaya.

Karena semalam tak sempat persiapan belanja perbekalan, di warung depan Kampus IPB kusempatkan belanja roti dan beberapa botol air mineral. Kutahu pasti depan Kampus di hari Minggu pagi sudah ramai dengan orang-orang yang berolahraga. Tentu saja warung pun dekat sana akan buka di pagi buta untuk melayani mereka.Tepat jam 6:00 sampailah motorku di depan jalan setapak ke saung. Salah seorang teman sudah menunggu di depan. Sebentar istirahat sambil kusempatkan menghirup kopi panas, kami berempat siap-siap berangkat. Kami berempat karena ada bertambah satu orang asli daerah Tenjolaya yang turut serta. Kami titipkan motor di rumah penduduk pengurus saung dan kolam ikan temanku itu. Diputuskan untuk menggunakan angkot menuju terminal Tenjolaya. Dari terminal barulah kami berjalan kaki menuju lokasi. Jika menggunakan angkot dari Bogor (Terminal Bubulak) ongkosnya sebesar Rp 7.000,- sampai ke terminal Tenjolaya.

Jarang angkot yang kosong menuju Tenjolaya. Hampir 30 menit kami berjalan kaki menelusuri jalan aspal sambil sesekali mencegat angkot kosong. Untungnya teman yang asli orang sana, dikenal sekali oleh supir-supir angkot, sehingga cukup melihat dia supir angkot langsung menawarkan angkotnya untuk ditumpangi walau berdiri di pintu. Laksana kenek angkot, bergelantungan.

Terminal Tenjolaya sepagi itu, sekitar jam 7:30, sudah ramai dengan angkot yang ngetem menunggu penumpang. Tepat di pertigaan, pas ujung Tenjolaya, kami mengambil arah menurun menuju Curug Luhur. Cuma sekitar 4 meter ada jalan masuk ke Villa Sutiyoso (mantan Gubernur DKI). Di jalan aspal yang lebarnya hanya pas satu mobil, jalanan masih aspal. Sambil berjalan mendaki, kami tanya-tanya ke beberapa orang yang berpas-pasan di jalan tentang lokasi Arca Domas. Sampai bertemu lapangan bola yang ramai dengan anak-anak kecil bermain bola, kami belum mendapat kepastian lokasi Situs Cibalay.

Di ranah sunda, ada tiga daerah yang dikenal memakai nama Arca Domas. Yakni: Arca Domas Cikopo, di kaki Gunung Pangrango, Arca Domas di Baduy Banten yang masih jadi tempat pemujaan orang-orang Baduy dan Arca Domas Cibalay Tenjolaya. Dari ketiga daerah tersebut, hanya Arca Domas di Cibalay yang sulit didapat data-data dan dokumentasinya. Arca Domas di Cikopo, kaki Gunung Pangrango, banyak dibahas karena disana ada makam Tentara Jerman saat PD II. Namun di Cikopo, arca-arca sudah tidak ada lagi. Berubah menjadi lahan-lahan pertanian/perkebunan, villa-villa mewah dan jalan raya. Sedangkan Arca Domas di Baduy, sampai sekarang tetap jadi tempat suci orang-orang Baduy.

Arca Domas – Cibalay masih dalam wilayah Kecamatan Tenjolaya. Di kaki Gunung Salak. Di atas Curug Luhur. Tidak jauh dari Villa Sutiyoso, mantan Gubernur DKI. Jalan masuknya sering dipakai pendaki dan menuju bumi perkemahan. Ke sinilah kami menuju.

Sudah tiga orang yang kami tanya lokasi Arca Domas, namun tak satupun yang tahu. Akhirnya di pinggir lapangan bola, sambil menonton bola dan istirahat, kami berbincang dengan penonton di sekitar lapangan. Syukurnya ada satu orang yang tahu, namun hanya menunjukkan arah jalan setapak saja. Tidak menunjukkan lokasi tepatnya.

Tak jauh dari lapangan bola, berdasarkan petunjuk tadi, kami berbelok ke jalan setapak yang becek. Hanya menurutkan jalan setapak itu saja kaki kami menelusurinya. Tanpa tahu lokasi pasti Arca Domas. Menggulung celana dan berjalan berjingkrat, kami menghindari tanah merah yang jeblog. Turunan yang licin tidak lama kami lalui, akhirnya nampak semacam danau kecil. Mungkin hanya penampungan air saja. Tak jauh dari situ, terlihat ibu-ibu sedang mencari rumput untuk ternak. Kami tanyakan lagi perihal lokasi Arca Domas. Lumayan, mereka sepertinya sangat hafal tempat itu. Diarahkannya kami untuk terus mengikuti jalan setapak.

Setelah melalui lembah dengan pemandangan yang cantik, namun masih bersemak-semak setinggi dada, akhirnya kami sampai di pintu gerbang Arca Domas. Diperkirakan jarak berjalan kaki dari jalan aspal hanya sekitar 1,5 KM saja. Area situs sangat rindang dan teduh. Dinaungi pohon-pohon pinus yang tinggi dan berada di puncak bukit. Namun tidak terlihat karena saking lebat dan rindangnya pohon-pohon itu. Dengan luas sekitar satu hektar, situs itu sangat rapih terjaga. Di pintu gerbang, kami sudah disambut dengan plang nama ”Bale Kambang” dan dibawahnya ada batu-batu tersusun rapi. Katanya dulu ini tempat penasehat-penasehat Pajajaran berunding dan bermusyawarah menyusun strategi.

Tahun 1527 prajurit-prajurit Fatahillah yang Islam dari Cirebon dibantu Kerajaan Banten mulai menyerang Kerajaan Hindu Pajajaran. Banyak pejabat-pejabat istana kerajaan Pajajaran yang bersembunyi di hutan-hutan. Namun melihat hamparan batu-batu yang tersusun di situs ini, sepertinya sudah masuk mulai jaman megalithikum. Ada punden berundak yang rapi dengan susunan batu-batu pipih. Juga banyak batu menhir dan dolmen tersusun dengan maksud dan makna yang belum kuketahui.

Menurut Brumund (1868), arca-arca semodel ini disebut arca tipe Pajajaran. Karena arca-arca banyak ditemukan di wilayah Pajajaran. Namun Groeneveldt (1887) menggolongkannya ke dalam arca tipe ”Polinesia”, karena selain ditemukan di wilayah Jawa Barat juga ditemukan di Pulau Nias, Batak, Flores, Sumba sampai ke kawasan Kepulauan Pasifik.

Kalau Arca Domas di Cikopo, Raffles yang melaporkan pertama kali dalam bukunya History of Java (1817). Dia menerangkan bahwa di Cikopo banyak arca berbentuk monyet dan manusia yang dibuat dari batu kasar. Ditambahkan oleh Buddingh (1860) dengan gambar tentang daerah Arca Domas di Cikopo. Sayang sekali, aku sampai saat ini belum mendapatkan data tentang Arca Domas di Cibalay.

Kata Arca Domas sendiri berarti ”800 patung”. Arca berarti patung, dan Domas berarti delapan ratus. Domas berasal dari kata ”dua” dan ”omas”. Omas berarti empat ratus. Sehingga ”domas” adalah 2×400 menjadi 800. Mungkin saja jumlah arca di area ini sebanyak 800. Tapi belum ada yang menghitung secara pastinya.

Disambut dengan senyum ramah sang kuncen, Pak Ending, kami dijamu dengan air teh yang hangat. Sungguh menyegarkan di udara yang adem sejuk, kami duduk dibale-bale. Kami berbincang akrab dan berbagi cerita. ”Arca Domas di Cibalay ini sangat sepi pengunjung”, tutur Pak Ending. Beliau juga menceritakan bagaimana bapaknya pertama kali menemukan situs ini. Bapak beliau, Pak Ursin, sampai disangka orang gila dan sempat diborgol oleh Belanda.

Mungkin karena Pak Ending merasa cocok dengan kami, beliau mengajak kami ke tempat rahasia yang belum diungkapkan ke khalayak. Tempat itu belum resmi dilaporkannya. Juga beliau menceritakan latar belakang ditemukannya tempat rahasia itu.

Jadi selain di bukit tempat punden berundak yang banyak batu menhir dan dolmen berserakan, beliau juga belum lama menemukan situs lain tak jauh dari sini. Beliau menyebutnya Batu dengan Huruf Gores. Huruf gores lebih tua dibanding huruf palawa ataupun huruf paku.

Saat sedang termenung selesai membersihkan area Arca Domas, beliau dikagetkan oleh suara kepakan burung rajawali. Burung itu seakan mengajaknya ke suatu tempat. Tiga kali burung terbang dan hinggap kembali didekatnya. Selagi terbang, rajawali selalu menengok ke arah wajahnya. Akhirnya, Pak Ending mengikuti kemana rajawali terbang.

Sekitar beberapa ratus meter dari tempat semula Pak Ending duduk termenung, burung rajawali hinggap di atas batu besar. Di balik semak-semak, di bawah rerimbunan pepohonan bambu dan di tengah-tengah serakan batu-batu, burung rajawali seperti menunjukkan ada sesuatu di batu tempatnya hinggap.

Kami diantar oleh Pak Ending ke lokasi tempat batu itu ditemukan. Melalui jalan setapak dan rindangnya hutan pinus, lokasi itu terletak di lereng bukit yang agak sulit dijangkau serta tidak terlihat dari arah jalan setapak.

Batu berhuruf gores itu sebesar meja. Kalau diperhatikan, batu itu berbentuk tubuh burung rajawali. Di arah atas, berbentuk kepala burung dan dibawah berbentuk ekor burung. Di bentuk sayap yang terkatup, terlihat goresan-goresan. Sejawat Pak Ending mengatakan bahwa goresan-goresan itu kemungkinan mengenai Gunung Salak. Karena goresan-goresan di batu itu, maka Pak Ending menyebutnya Batu dengan Huruf Gores.

Area Arca Domas Cibalay sendiri, secara keseluruhan luasnya sekitar 4 hektar. Batu-batu menhir dan dolmen berpencaran. Ada yang berdekatan. Ada pula yang berjauhan. Belum semua situs yang ada di area itu dikelola dan diteliti. Di area utama, puncak bukit, disebut ”pusar” (bahasa sunda=bujal). Di tengah-tengahnya ada batu tegak berbentuk segitiga. Katanya melambangkan Gunung Salak. Di sekelilingnya dilingkari susunan batu-batu yang terhampar melingkari batu segi tiga. Diameter lingkaran, sekitar 3 atau 4 meter.

Agak ke belakang dari ”pusar”, yang paling belakang, ada 3 batu berdiri tegak berbentuk segi empat memanjang. Kalau diperhatikan tiga batu itu, katanya, melambangkan huruf arab. Yakni: huruf ”alif”, ”lam” dan ”ha”. Yang berarti ”Allah”.

Di depan sedikit dari 3 batu itu, ada dua batu tegak berdampingan berbentuk segitiga. Melambangkan dua buah gunung, yang memang lokasinya berdekatan, yaitu: Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Saat itu, kulihat dibawah batu ada semacam sesajen berupa uang kertas Rp 1000,- dan sepuntung rokok kretek.

Di dekat situs, masih dalam lingkungan, ada empat saung berbale-bale. Walaupun hanya terbuat dari bilik bambu, saung-saung itu bersih dan rapih. Di bawah panggungnya masih tanah, tapi terlihat selalu bersih karena dirawat. Saung-saung ini, katanya, tempat istirahat pejiarah-pejiarah. Saat kami akan pulang, ada rombongan pejiarah yang datang. Dari Bogor – Ciapus, setelah kutanya dari mana.

Di belakang saung-saung, ada lembah yang di bawahnya terdapat pancuran air. Dingin airnya. Melalui tangga tanah dan pegangan dari bambu, kami sempat beristirahat sambil mencuci muka di pinggir pancuran. Namun tak lama, karena ada rombongan pejiarah yang akan mandi bersih di pancuran ini.

Karena sudah siang dan mulai ada rombongan pejiarah, takut mengganggu kegiatan Pak Ending, akhirnya kami pamit pulang. Dengan janji, insya Allah, akan balik lagi berdiskusi tentang budaya sunda dengan Pak Ending. Pak Ending, walaupun hanya kuncen pns, namun pengetahuan budaya sundanya luas sekali. Ditunjang lagi beliau bisa berbahasa Belanda dan Mandarin. Saat kutanya belajar darimana, Pak Ending hanya berkata, ”bisa sendiri”. Subhanallah.

Menelusuri jalan setapak yang sama dengan saat datang, kami berjalan berempat beriringan. Di hati puas sekali. Dapat mengenal budaya sunda, budaya asli bangsa Indonesia. Walaupun masih banyak pertanyaanku yang belum terjawab tentang kaitannya dengan kejayaan Pajajaran Sunda. Perlu kajian yang mendalam dan pakar-pakar sejarah serta arkeologi untuk menggali pelajaran disini.

Seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan yang melintas dalam hatiku, di ujung jalan setapak ada kerbau sedang merumput. Dan tak jauh dari kerbau itu, ada tiga orang anak kecil sedang bermain layang-layang.

Ya, seperti menjawab suara hatiku. Tembang sunda di awal tulisan ini, berjudul Salaka Domas yang diambil dari kisah rakyat sunda tentang Munding Laya. Munding Laya adalah putra Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Beliau mendapat tugas untuk mengambil Salaka Domas dari Kahyangan.

Ya, seperti menjawab lintasan-lintasan pertanyaanku. Karena kerbau yang kulihat di ujung jalan setapak itu, dalam bahasa sunda adalah “Munding”. Dan Salaka Domas yang dititahkan untuk diambil berarti layang-layang perak. Layang-layang yang kulihat dimainkan oleh anak-anak kecil di dekat sana. Waallahu a’lam bi showab.

Salam,
Bagja

Bermain Bola
 1 Komentar 

Pemandangan Indah
  


  


DSCF5958.jpg
  

Sesajen
  

DSCF5960.jpg
 Komentar 

5 responses to “Situs Cibalay : Mencari Jejak Pajajaran

  1. saya menawarkan diri untuk melakukan pemetaan situs Cibalaya sesuai kaidah ilmu Geodesi ( ilmu pengukuran dan pemetaan) dengan peralatan pemetaan sesuai standart ( total station, GPS, software pengolah data ) dengan hasil :
    1.Peta situasi situs
    2.Peta bentuk permukaan /topografi loksi situs
    3.Peta digital dalam format CAD 3D.

    Manfaat dari peta tersebut:
    untuk mempelajari/explorasi situs tersebut lebih optimal
    Untuk perencanaan situs agar lebih terkonsep

    jika ada yang mersepon, hub saya:
    Soleh
    Tinggal di dekat kantor bupati bogor kel,Tengah Cibinong ( dekat perpustakaan )
    Hp 082111065750

  2. penawaran ini bersifat sukarela ( tidak mengharapakan imbalan ), di dasari karena saya orang bogor dan cinta budaya/sejarah bogor

  3. Ping-balik: Jejak Tradisi Megalitik Di Gunung Salak [Catatan Perjalanan] | musik air

  4. Ping-balik: Stone Gathering; Komplek Situs Cibalay – Arcadomas – Bogor | by the wind and grass there is home

  5. Ping-balik: Stones Gathering; Komplek Situs Cibalay – Arcadomas – Bogor | reconnect your roots to the earth

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s