BUDAYA AGRARIS Padi Melimpah Berkah Ibu Pertiwi

Mawar Kusuma

IBU Pertiwi memberkahi hasil padi melimpah kepada petani Kampung

Adat Ciptagelar, Jawa Barat, yang dengan penuh kasih menghidupi padi lokal, asli dari Kerajaan Pajajaran itu. Lumbung padi berlimpah tuaian dari tahun ke tahun. Orang kota pun ikut menikmatinya….

Ketika rasi bintang kidang mulai condong ke barat, pemangku adat Kampung Ciptagelar, Abah Ugi Sigriana Rakasiwi (27), di Kecamatan Cisolok, Sukabumi, memutuskan memulai musim tanam padi sawah. Sebelum sinar matahari menyentuh tanah, Jumat (16/11), Abah Ugi merapal doa dan menanam lima batang padi jenis Tampeuy Hideung dalam upacara melak pare (menanam padi).

Pasukan penjaga padi yang disebut rorokan paninggaran segera menyambut ritual penanaman padi awal itu dengan tembakan senapan tanpa peluru ke udara. Dengan bunyi senapan warisan zaman Belanda ini, rorokan paninggaran menegaskan tekad menjaga keamanan pangan.

Istri Abah Ugi, Emak Alit (24), melanjutkan prosesi menanam padi diikuti 310 warga. Musik angklung buhun menemani langkah petani menanam padi dengan lantunan lagu berbahasa Sunda kuno bagai membuai bibit padi yang baru ditanam ke bumi.

Menjelang tengah hari, sawah di bukit milik Abah Ugi telah menghijau oleh tanaman padi. Begitu selesai menanam padi, seluruh warga menyantap nasi lauk ikan asin dan sayur leunca dengan wadah daun pisang yang digelar di pinggir sawah.

Esok harinya, seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar yang tersebar di 568 kampung di tiga kabupaten, yaitu Bogor, Banten, dan Sukabumi, akan meneruskan menanam padi di lahan masing-masing. Meski penanaman dilakukan serempak, jenis padi yang mereka tanam sangat beragam dengan lebih dari 125 jenis padi lokal.

Kasepuhan Adat Ciptagelar menuntut warganya setia menanam padi lokal. Warga Ciptagelar juga dilarang memperjualbelikan hasil panenan padi. Kesetiaan pada padi lokal itu terbukti melahirkan kedaulatan pangan bagi petani.

Ratusan tahun

Dengan penanaman padi lokal, Kasepuhan Adat Ciptagelar selalu terhindar dari gagal panen sejak didirikan pada tahun 1368. Tiap petani memiliki cadangan padi hingga minimal dua tahun ke depan yang disimpan di leuit atau lumbung.

Leuit juga menjadi penanda status seseorang. Semakin banyak leuit yang dimiliki, semakin kaya seseorang. Abah Ugi memiliki 21 leuit pribadi dan lebih dari 7.000 leuit komunal dengan kapasitas 500-1.000 pocong (ikat) padi per leuit. Satu pocong ini setara dengan 5 kilogram-6 kilogram.

Ketika memasuki masa panen, setiap petani wajib menyimpan satu pocong padi di Leuit Jimat yang merupakan lumbung komunal. Leuit Jimat menjadi bank padi. Petani bisa meminjam padi dan mengembalikan pada musim panen berikutnya tanpa bunga.

Simpanan padi di Leuit Jimat sampai ada yang berumur 300 tahun saking tidak pernah ada petani yang meminjam. ”Abah suka bingung, kok bisa petani di tempat lain mengeluh kekurangan pangan,” kata Abah Ugi.

Padahal, petani di Ciptagelar hanya bisa panen sekali dalam setahun. Selain karena umur tanam padi lokal yang berkisar 4-9 bulan, petani menganggap tanah sebagai ibu yang hanya bisa melahirkan satu kali dalam setahun.

Dengan panduan rasi bintang di langit, pertanaman padi bisa terhindar dari serangan hama. Pada saat bintang kidang mulai terbenam yang dikenal dengan istilah tilem kidang turun kungkang pada bulan Mei, hama-hama mulai bermunculan sehingga tanaman harus sudah dipanen.

Doa juga diyakini menjadi penentu utama keberhasilan panen. Tiap tahapan penanaman padi di kampung yang terletak di Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Sukabumi, ini selalu diiringi dengan ritual doa.

Tak hanya ketika menanam padi, doa pun dipanjatkan ketika bulir padi mulai berisi, batang padi mulai dipotong, dan ritual mencicipi nasi pertama di tahun ini. Dalam setahun, setidaknya ada 12 ritual yang digelar untuk padi.

Memukau dunia 

Kemandirian pangan dari petani adat di Lereng Gunung Halimun ini memukau warga dunia. Ua Ugis Suganda Amas Putra (61) dari Ciptagelar menjadi satu-satunya petani yang tidak mengeluh tentang kegagalan panen ketika menjadi pembicara di Pameran Produk Pangan Dunia Terra Madre dan Salona Del Gusto di Italia, 22-28 Oktober lalu.

Pada saat petani dari negara lain berkeluh kesah, Ua Ugis memaparkan keunggulan petani di Lereng Halimun yang mampu memiliki cadangan padi hingga 20 tahun ke depan. ”Ua membawa solusi. Intinya adalah memperlakukan bumi sebagai ibu dan langit sebagai ayah,” kata Ua Ugis.

Tak hanya masyarakat adat, sebagian petani, seperti di Cianjur, Jawa Barat, kembali tertarik menanam padi lokal setelah jalur khusus menuju pasar mulai terbuka. Areal pertanian di Desa Gasol di kaki Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat, misalnya, telah menguning dihiasi pertanaman padi lokal jenis Beurem Seungit, Gebang Omyok, atau Peuteuy yang siap panen.

Pertalian petani Desa Gasol dengan padi lokal sempat terputus pada saat pemerintah memperkenalkan padi unggul IR 64 yang bisa dipanen hingga tiga kali dalam setahun sejak masa revolusi hijau tahun 1980-an. ”Ganti IR 64 karena benihnya dikasih pemerintah,” kata petani Desa Gasol, Pidin (64).

Kini, Pidin memilih menanam padi hawara batu yang rasanya manis dan tetap enak meski hanya disantap dengan lauk garam. ”Jika menyantap hawara batu di pukul tujuh pagi, rasa kenyang bertahan hingga pukul tujuh malam. Kalau makan beras IR, jam 12 siang, perut sudah gelisah kelaparan,” kata Pidin.

Setelah diteliti di laboratorium, padi lokal, seperti Hawara Batu, ternyata mengandung indeks glikemik yang rendah. Semakin rendah indeks glikemik, makanan menjadi lamban dicerna sehingga menimbulkan efek kenyang.

Masuk supermarket

Produk padi lokal organik dari Desa Gasol kini telah dipasarkan ke supermarket, seperti Food Hall dan Ranch Market, di seluruh Indonesia. Pemilik Gasol Pertanian Organik, Ika Suryanawati, membeli padi lokal dari petani di Desa Gasol dengan harga dua kali lipat dibandingkan padi IR 64.

Ika merintis pertanian padi lokal organik di Desa Gasol sejak 2004. Kala itu, tak satu pun petani di Desa Gasol yang masih menanam padi lokal. Selama tiga tahun pertama, Ika mengumpulkan satu per satu benih padi lokal dari petani.

Dari proses itu, Ika antara lain menemukan beras yang teksturnya lengket seperti ketan hingga beras merah wangi yang kini menjadi produk andalan Gasol. Benih padi lokal itu lantas dibagikan kepada petani secara cuma-cuma.

Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Dr Karden Mulya mengakui kelemahan pendataan padi lokal. Akibatnya, padi lokal, seperti adan asal Kalimantan Timur yang diminati konsumen Timur Tengah, sempat diklaim sebagai milik Malaysia.

Tejo Wahyu Jatmiko dari Aliansi Desa Sejahtera menegaskan perlunya perlindungan terhadap padi lokal. ”Kehilangannya tidak hanya benih, tetapi budaya. Petani yang terpisah dari padi lokal menjadi tidak berbudaya karena hanya berperan sebagai pekerja, bukan lagi produsen,” kata Tejo.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2012/11/18/02382953/Padi.Melimpah.Berkah.Ibu.Pertiwi

Aksi adaptasi di Ciptagelar

Senin, 01 November 2010 | 03:55
Persawahan di Ciptagelar

Persawahan di Ciptagelar (sumber: aditya wardhana/beritasatu)

Perubahan iklim mulai dirasakan masyarakat adat Ciptagelar, Sukabumi.

Di tengah hujan yang lebat, empat lelaki itu terus membersihkan saluran air berbentuk terowongan selebar 1 meter, yang penuh dengan daun dan ranting. Seseorang yang dikenal sebagai Ki Jampa terlihat masuk ke terowongan sepanjang 50 meter. Dengan cangkulnya, dia berusaha mengangkat tanah yang mengendap di dalam terowongan. Hampir satu jam mereka membersihkan terowongan air itu, sebelum memutuskan kembali ke kampung mereka di Ciptagelar, Cisolok, Sukabumi yang tidak jauh dari terowongan saluran air itu.

Benar, Ki Jampa dan teman-temannya memang warga Ciptagelar. Mereka adalah bagian dari Manintin, kelompok dalam masyarakat adat Ciptagelar yang bertanggungjawab pada sistem pengairan.  Siang itu mereka sengaja datang ke terowongan air di kaki Gunung Halimun, karena hujan yang turun sejak pagi dikuatirkan membawa daun dan ranting yang bisa menutupi terowongan saluran air.

Anggota Maninin sebetulnya ada 10 orang, tapi hari itu, adalah giliran Ki Jampa dan teman-temannya untuk memeriksa saluran air. Bila terjadi longsong dan saluran air tetutup timbunan tanah, mereka semua turun tangan membereskannya.

Kata Ki Daor yang menjadi ketua Manintin, tugas menjaga dan merawat sistem pengairan itu, diwarisi dari nenek moyang mereka sejak 600 tahun lalu.  “Ya sampai tua melaksanakan tugas ini, kalau saya meninggal ada yang meneruskan, anak-anak saya. Dulu ayah saya. Ayah meninggal dilanjutkan saya, kalau saya meninggal dilanjutkan anak saya,” kata Ki Daor.

Tidak ada gaji atau bayaran. Semuanya dilakukan berdasarkan kesadaran dan keikhlasan.

Selain merawat dan kemudian mengatur pembagiannya, Manintin juga bertugas merawat mata air yang berjarak sekitar 3 jam berjalan kaki menembus hutan kaki Gunung Halimun, dari kampong atau lembur.  Biasanya mereka juga mengawasi agar hutan di sekitar mata air tidak ditebangi para penebang liar.

“Kalau hutan ditebangi, nanti airnya susah. Sedangkan air adalah masalah pokok bagi kami. Sawah butuh air, rumah butuh air,” kata Ki Daor.

Masyarakat adat Ciptagelar membagi hutan menjadi tiga jenis hutan: larangan, tutupan dan garapan. Untuk hutan larangan, pohon-pohonya sama sekali tidak boleh ditebang. Untuk memasukinya pun ada syarat dan mantra khusus.  Untuk hutan tutupan, harus ada izin dari pemimpin adat sebelum menebang pohon.  Sedang untuk hutan garapan adalah hutan atau lahan yang bisa digarap, biasanya untuk ladang dan sawah.

Untuk mengatur pembagian aliran air yang mengalir ke sawah kata  Ki Daor diatur berdasarkan jumlah bibit. Kalau bibitnya satu gedeng (ikat) airnya satu senti, dua gedeng dua senti, begitu seterusnya. Dengan sistem ini, maka tidak ada konflik dan kecemburuan karena semua mendapat air sesuai kebutuhan.

 

Perubahan

Setiap tahun Ciptagelar merayakan seren taun, perayaan puncak penyimpanan padi ke lumbung (leuit).  Sejauh ini sistem lumbung leuit mampu menghindarkan Ciptagelar dari ancaman kelaparan. Tapi kini perubahan iklim membayangi hasil panen mereka.

Ugi Suganda, tokoh Ciptagelar yang tinggal di desa Sirnaresmi, mengatakan, yang paling dirasakan adalah ketidakpastian musim. Padahal masyarakat Ciptagelar yang hidup bertani sangat tergantung dengan iklim. Mereka menandai pergantian musim melalui perbintangan.

Namun, tiga tahun terakhir praktis tidak ada musim kemarau sebab setiap bulan turun hujan. Hujan yang turun terus menerus berpengaruh pada pertanian. Padi memang membutuhkan air tapi padi bukan tanaman air. Dengan curah hujan tinggi, debet air dari mata air juga mengalir deras, menggenangi persawahan. Akibatnya bulir padi berkurang. Panen menyusut.

Selain mengerjakan sawah, masyarakat Ciptagelar juga berladang. Jika musim kemarau datang, masyarakat membersihkan ladang dengan membakar semak belukar. Sisa pembakaran dipergunakan sebagai pupuk. “Karena hujan terus, berladang jadi kurang maksimal,” keluh Ugi.

Wilayah Ciptagelar yang berbukit-bukit maka ancaman longsor terasa. Meski hutan-hutan di skeitar Ciptagelar masih lebat tapi di beberapa bagian tebing yang pepohonan sudah tua bisa tumbang dan tanahnya longsor.

Selain musim yang tak menentu, masyarakat Ciptagelar juga merasakan peningkatan suhu.  Sudah ada beberapa tanda-tanda yang terasa. Misalnya, ladang yang berada di ketinggian di atas 1.500 meter, dulu padinya tak pernah berisi karena suhu yang dingin. Sekarang mulai berisi karena suhu mulai menghangat. Pohon kelapa dan cengkeh yang selama ini tidak pernah berbuah dan berbunga,  kini juga mulai berbuah dan berbunga.

“Dulu, subuh-subuh siapa berani mandi, sekarang udah biasa. Siang hari yang biasanya pake jaket, sekarang tak terasa dingin lagi.”

Kata dia, ancaman perubahan iklim itu sekarang memang belum terlalu berpengaruh. Tapi bila tidak diantisipasi, Ugi khawatir masyarakat adat Ciptagelar akan terkena dampaknya. Mereka, karena itu, mulai menanami lahan-lahan gundul untuk mencegah dampak buruk perubahan iklim.

Enam sektor

Dalam pandangan  Armi Susandi, Wakil Ketua Kelompok Kerja Adaptasi, Dewan Nasional Perubahan Iklim, ada enam sektor yang paling rentan terpengaruh perubahan iklim yaitu kelautan, pertanian, ketahanan pangan, kehutanan dan sumber daya air.

Di sektor pertanian dan ketahanan pangan, Pelaksana tugas Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatot Irianto, mengatakan dampak perubahan iklim ada yang positif dan negatif. Dampak positif yaitu ketersediaan air melimpah sepanjang tahun, sehingga luas tanam padi meningkat 300-an ribu hektar, tidak ada kekeringan termasuk pada tanaman perkebunan, tidak ada kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan dampak negatif adalah luas areal padi yang terkena banjir sedikit meningkat, demikian juga serangan wereng cokelat.

Armi mengiyakan adanya dampak positif perubahan iklim tapi menurut perhitungannya, bila tidak ada strategi adaptasi yang sanggup mengurangi dampak perubahan iklim, maka sektor pertanian terutama beras akan mengalami penurunan produksi sebesar 2.5%. Padahal diramalkan pertumbuhan penduduk sebesar 5%. Maka diperkirakan masyarakat miskin bertambah 7.5%. “Memang seperti di NTT yang curah hujan bertambah, bisa tumbuh padi, tapi siapa yang mau tanam dengan infrastruktur seperti sekarang?” terang Armi

Untuk menghadapi dampak perubahan iklim, Kementerian Pertanian menyiapkan strategi adaptasi antara lain menumbuhkan kesadaran masyarakat pentingnya adaptasi perubahan iklim, penelitian dan pengembangan varietas yang tahan genangan atau tahan kekeringan, diversifikasi produksi dan pendampingan. Gatot berpendapat, faktor manusia menjadi kunci dalam adaptasi perubahan iklim, “menurut pengamatan saya di berbagai wilayah tanah air, penentu utamanya adalah 1. Orang; 2. Manusia; 3. Kita semua.”

Secara nasional, tengah digodok Rencana Aksi Nasional khusus adaptasi. Tapi Armi mengingatkan bahwa adaptasi haruslah dirancang secara matang di tingkat lokal. Sebab kondisi masing-masing daerah dan tiap sektor sangatlah berbeda dan menyimpan keunikan tersendiri. Masyarakat adat merupakan kontributor terkecil terhadap perubahan iklim namun mereka adalah kelompok pertama yang menanggung dampak-dampaknya.

Karena itu, adopsi terhadap kearifan lokal yang telah dijalankan masyarakat adat tak boleh ketinggalan.

Armi menambahkan, kearifan lokal harus dipadukan dengan metode ilmiah. Harus ada penelitian yang bertujuan memetakan masalah. “Berapa kenaikan suhu, perubahan apa saja yang sudah terjadi, lalu dirumuskan menjadi rencana aksi.”

Asdep Urusan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup, AGus Gunawan menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkewajiban menyusun Kajian Resiko dan Adaptasi Perubahan Iklim atau KRAPI. Kajian ini bertujuan memberikan informasi penting mengenai resiko atau potensi dampak perubahan iklim yang berdasarkan ilmiah untuk bahan pengelolaan/ pelaksanaan pengendalian dampak perubahan iklim di daerah, khususnya bagi para pengambil keputusan.

KRAPI disusun oleh Tim KRAPI yang dibentuk oleh Gubernur untuk KRAPI Propinsi dan Bupati/Walikota untuk KRAPI kabupaten/kota. Tim KRAPI terdiri dari: Instansi lingkungan hidup daerah (sebagai ketua); Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD); Unit Pelaksana Teknis (UPT), dan Pakar yang terkait dengan bidang perubahan iklim. Kementerian Lingkungan Hidup kemudian mengintegrasikan kajian dari berbagai daerah sebagai dasar penyusunan Peta Nasional Kerentanan Terhadap Dampak Perubahan Iklim.

Agus juga mengingatkan urgensi Rencana Aksi Nasional Adaptasi karena Saat ini, Indonesia yang sudah rentan terhadap resiko bencana alam, seperti banjir, longsor, erosi, badai tropis, dan kekeringan, akan menghadapi resiko yang lebih besar lagi ke depan akibat perubahan iklim. Apabila langkah-langkah penanganan yang konkret tidak segera dilaksanakan, maka target-target pembangunan milenium(MDGs) untuk bidang-bidang yang berkaitan dengan kemiskinan, kelaparan, dan kesehatan akan sulit dicapai.

Bahkan, ada kemungkinan, target-target pembangunan yang telah tercapai selama puluhan tahun ini, juga terancam. Oleh karena itu, agenda adaptasi perubahan iklim harus diimplementasikan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan dengan mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi. Pembangunan yang hanya mementingkan pencapaian tujuan ekonomi semata tanpa memperhatikan kelestarian alam akan menambah kerentanan Indonesia terhadap perubahan iklim.

 Aditya Wardhana, koresponden beritasatu dan pesertaSociety of Indonesian Environmental Journalists

Penulis: aditya wardhana

Sumber:-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s