Kota Tua kerajaan Kendan di Nagrek Garut.

Kota Tua kerajaan Kendan Wilayah Nagreg...
TaufikSuhendar MLanglangbuana 10:44am Feb 14
Kota Tua kerajaan Kendan
Wilayah Nagreg merupakan bekas ibukota kerajaan Kendan atau kerajaan Kelang, menurut versi masyarakat setempat.
Kerajaan Kelang ibukotanya bernama Kendan. Nama Kendan sendiri berasal dari kata kenan, yaitu sejenis batuan cadas, berongga, dan di dalamnya mengandung kaca (batu beling) berwarna hitam. Batuan ini tampak berkilauan saat terkena matahari. Permukaannya sangat kasar dan sedikit tajam. Jenis batuan ini hanya terdapat dalam wilayah kampung Kendan. Sedangkan di tempat lainnya, termasuk di kampung-kampung dekatnya, nyaris sangat sulit ditemukan.

Menurut versi lain, nama Kendan berasal dari kata kanda yang mendapat akhiran -an, yaitu sebuah sistem religi tradisonal yang menganut paham monoteisme (hyang tunggal) yang dikembangkan oleh Praburesiguru Manikmaya pada abad ke-6 sebagai norma kehidupan beragama jauh sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda sekitar abad ke 16. Salah satu kegiatan ritual keagamaannya berbentuk pasaduan yang dilakukan di seputar kabuyutan. Dan di dalam kabuyutan tersebut biasanya ditandai dengan bangunan punden berundak.
Punden ini tersebar di beberapa tempat yang sering disebut orang sebagai candi. Istilah ini didasarkan adanya kemiripan bahan material dengan bangunan umat Hindu. Meskipun sebenarnya antara arsitektur punden dan arsitektur candi sangat jauh berbeda. Candi merupakan bangunan tertutup atau berdinding, sedangkan punden merupakan bangunan terbuka tanpa dinding maupun atap. Di dalam konsep tata ruang puseur dayeuh kerajaan pra-Islam di Tatar Sunda, bangunan punden berfungsi sebagai goah.
Berbeda dengan beberapa daerah bekas kerajaan di beberapa belahan dunia, keberadaan kota lama sebagai puseur dayeuh mungkin tidak terlalu menonjol.
Sebuah petunjuk mengenai keberadaan puseur dayeuh, pada saat ini yang dapat kita saksikan hanyalah sebuah perkampungan yang disebut Kampung Kendan. Wilayah ini merupakan sebuah bukit yang terletak 15 km sebelah tenggara Cicalengka. Di daerah ini pernah ditemukan pula sebuah arca manik (yang oleh para ahli sejarah disebut Patung Durga ) yang sangat halus pembuatannya. Dan sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Selain itu, di kawasan ini ditemukan beberapa situs makam keramat yang diduga merupakan tokoh-tokoh Kerajaan Kendan, seperti Sanghyang Anjungan, Embah Singa, Embah Cakra dan situs makam Kiara Janggot.
Perlu menjadi catatan, arca Manik(maya) bukanlah untuk dijadikan berhala, melainkan semata-mata bentuk penghormatan dan kekaguman masyarakat Kendan terhadap ketokohan Sang Prabu Rsiguru Manikmaya. Karena sang Prabu, selain seorang penguasa yang arif bijaksana, juga seorang Rsiguru yang mengajarkan berbagai tatanan peradaban baru pada masanya, maka tidak mustahil arca Manik ini banyak menghiasi kabuyutan-kabuyutan sebagai ikon ketaatan dan kepatuhan masyarakat Kendan terhadap ajaran-ajaran Manikmaya sebagai gambaran kehidupan spiritual dalam sistem religi pada masa itu.
Pada bekas puseur dayeuh Kendan, selain ditemukan arca Manik, saat melakukan investigasi ke wilayah ini, sempat pula ditemukan sebuah ‘mahkota’ serta sebuah pusaka nagasasra (singkatan dari nagara rasa) yang tersimpan di salah seorang sesepuh Kampung Kendan. Sebagai nagara rasa, hanya orang yang memiliki kehalusan rasa dan ketajaman bathin yang dapat merasakan peninggalan-peningalan kerajaan Kendan yang sudah terkubur ratusan tahun lamanya. Dan sampai saat ini pun, belum dapat dipastikan dimana material bekas “karaton”-nya.
Nama kerajaan Kendan sendiri bagi masyarakat sekitarnya, sebenarnya tidak terlalu diabaikan. Sebab, menurut salah seorang penduduk, nama kerajaan Kendan itu sebenarnya kurang begitu diketahui. Mereka justru lebih mengenal kerajaan Kelang daripada kerajaan Kendan. Sedangkan Kendan merupakan ibukota pusat pemerintahannya.
Bila melihat konsep tata ruang kerajaan Kendan, bagaimana pun tidak akan sama dengan tata ruang wilayah Kabupaten Bandung pada setiap periode. Masa masa Kerajaan Kendan, konsepnya sangat sederhana. Yang dimaksud dengan Puseur Dayeuh itu, hanyalah terdiri dari kompleks karaton yang terletak di atas bukit, di bawahnya terdapat tajur, yang berfungsi sebagai alun-alun untuk melakukan upacara kerajaan yang melibatkan masyarakat banyak. Selebihnya adalah rumah-rumah penduduk yang tempatnya saling berjauhan.
Komplek karaton pun hanya terdiri dari bangunan bale gede untuk pelayanan rakyat dan bale bubut untuk tempat tinggal raja. Seluruh bangunan berbentuk panggung. Oleh karena itu, jika material bekas bangunan “karaton” Kerajaan Kendan sangat sulit ditemukan, adalah sesuatu yang wajar. Karena bahan dasar material bangunannya sendiri bukanlah terbuat dari bahan-bahan material permanen yang memungkin bisa saja rusak termakan waktu atau memang ada yang menghancurkan setelah lama ditinggalkan. Jika ada bekas-bekas karaton, paling yang bisa ditemukan hanya konsep tata ruang. Itu pun sudah dalam bentuk penamaan tempat.
Sedangkan, untuk artefak-artefak mungkin saja bisa ditemukan di sekitar bekas karaton. Diantaranya, yang pernah ditemukan adalah sebuah patung yang disebut arca Manik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s