Pantun Bogor

Taufik Hassunna

 

Pantun Bogor

‘ Pantun Sunda’ berbeda pengertiannya dengan ‘Pantun Melayu’, Pantun dalam budaya Melayu adalah’ puisi’, sedangkan Pantun dalam pengertian Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun Sunda adalah cerita tutur dalam bentuk sastera lama sunda yang dibawakan oleh Juru Pantun secara proloog, dialog dan seringkali dinyanyikan dengan diringi kecapi lama yang bersenar 7 dan diamainkan sendiri.

Pantun Sunda sudah ada sejak jaman Pajajaran , seperti yang ditulis dalam naskah Siksakandang Karesian (1518 Masehi) dimana ketika itu juru pantun membawakan lakon cerita : Anggalarang, Banyakcatra dan Siliwangi.

Pertunjukan Pantun Sunda juga mempunyai nilai sakral dalam kandungan cerita dan pertunjukannya, untuk acara acara sakral (upacara adat) biasanya dimulai pukul 13.00 sd 15.00, sedangkan untuk pertunjukan hiburan diadakan malam hari dari pukul 20.00 sampai 04.00 pagi.

Pada sekitar awal abad ke-18,seorang juru pantun yang menamakan dirinya Aki Buyut Rambeng yang berasal dari Jasinga Bogor, menulis “Pantun Bogor”.
Pantun Bogor ini terdiri dari 2 bagian, yaitu; Pantun Bogor Leutik dan Pantun Bogor Gede.
Pantun Bogor Leutik berkisah tentang kehidupan sehari hari masyarakat Pajajaran , tentang putri raja dan para ksatria, sedang kan Pantun Bogor Gede berkisah tentang agama Sunda, silsilah raja raja Sunda, ramalan (uga) dan pola pemerintahan kerajaan Sunda.
Pada masa lalu Pantun Bogor dituturkan oleh juru pantun dengan iringan kecapi lisung senar 7 khas Pajajaran yang kini sudah punah.

Saat ini kesenian pantun sudah hampir punah di Jawa Barat, kalaupun masih ada juru pantun sudah sangat tua. Barangkali masyarakat adat yang masih bertahan seperti Masyarakat Kanekes (baduy), Kampung adat Ciptagelar di Pelabuhan Ratu , Kampung Kiara Pandak (kampung urug) di Cigudeg Bogor, kesenian Pantun ini masih bertahan karena Pantun ini menjadi bagian dari acara ritual Sunda.

Di Bogor tercatat terakhir masih ada Juru pantun yang tinggal di kampung Cibeureum Kelurahan Mulyaharja Kota Bogo, Abah Kanceng Adi Wijaya, dan Bah Usep dari. Cariu, keduanya sudah meninggal dunia pada tahun 2008 yang lalu Yang tercatat masih ada adalah Abah Odo dari Gunung Bunder. Sedangkan salah satu Juru Pantun terkenal dari Bogor( Pa Cilong) namanya diabadikan menjadi nama tempat : Jalan Pa Cilong di Kebun Pedes Tanah Sareal

Pantun Bogor

' Pantun Sunda' berbeda pengertiannya dengan 'Pantun Melayu', Pantun dalam budaya Melayu adalah' puisi', sedangkan Pantun dalam pengertian Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun Sunda adalah cerita tutur dalam bentuk sastera lama sunda yang dibawakan oleh Juru Pantun secara proloog, dialog dan seringkali dinyanyikan dengan diringi kecapi lama yang bersenar 7 dan diamainkan sendiri.

Pantun Sunda sudah ada sejak jaman Pajajaran , seperti yang ditulis dalam naskah Siksakandang Karesian (1518 Masehi) dimana ketika itu juru pantun membawakan lakon cerita : Anggalarang, Banyakcatra dan Siliwangi.

Pertunjukan Pantun Sunda juga mempunyai nilai sakral dalam kandungan cerita dan pertunjukannya, untuk acara acara sakral (upacara adat) biasanya dimulai pukul 13.00 sd 15.00, sedangkan untuk pertunjukan hiburan diadakan malam hari dari pukul 20.00 sampai 04.00 pagi.

Pada sekitar awal abad ke-18,seorang juru pantun yang menamakan dirinya Aki Buyut Rambeng yang berasal dari Jasinga Bogor, menulis "Pantun Bogor". 
Pantun Bogor ini terdiri dari 2 bagian, yaitu; Pantun Bogor Leutik dan Pantun Bogor Gede. 
Pantun Bogor Leutik berkisah tentang kehidupan sehari hari masyarakat Pajajaran , tentang putri raja dan para ksatria, sedang kan Pantun Bogor Gede berkisah tentang agama Sunda, silsilah raja raja Sunda, ramalan (uga) dan pola pemerintahan kerajaan Sunda.
Pada masa lalu Pantun Bogor dituturkan oleh juru pantun dengan iringan kecapi lisung senar 7 khas Pajajaran yang kini sudah punah.

Saat ini kesenian pantun sudah hampir punah di Jawa Barat, kalaupun masih ada juru pantun sudah sangat tua. Barangkali masyarakat adat yang masih bertahan seperti Masyarakat Kanekes (baduy), Kampung adat Ciptagelar di Pelabuhan Ratu , Kampung Kiara Pandak (kampung urug) di Cigudeg Bogor, kesenian Pantun ini masih bertahan karena Pantun ini menjadi bagian dari acara ritual Sunda.

Di  Bogor tercatat terakhir masih ada Juru pantun yang tinggal di kampung Cibeureum Kelurahan Mulyaharja Kota Bogo, Abah Kanceng Adi Wijaya, dan Bah Usep dari. Cariu, keduanya sudah meninggal dunia pada tahun 2008 yang lalu Yang tercatat masih ada adalah Abah Odo dari Gunung Bunder. Sedangkan salah satu Juru Pantun terkenal dari Bogor( Pa Cilong) namanya diabadikan menjadi nama tempat : Jalan Pa Cilong di Kebun Pedes Tanah Sareal

Unlike ·  · Follow Post · 19 hours ago
  • You and Wisnu Umbaran like this.
  • Tato Sulistyo Informasinya bagus kang ,jadi dari literatur saya baca terbukti Padjajaran sudah exist sampai manca negara terbukti dari alat kecapinya ,sebenarnya alat musik itu asal muasalnya di adopsi dari china jadi kesimpulannya interaksi hubungan budaya sudah terjadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s