Tragedi Perang Bubat

by Rhestu Brajaningrat

LANGKAH DIPLOMASI PENYATUAN NEGERI SUNDA 

Di balai Agung Wilwatikta Maharaja Hayam Wuruk menggelar rapat khusus yang membahas penyatuan Negeri Sunda dibawah Panji-Panji Gula Kelapa yang agung, rapat itu dihadiri Ibunda RaTu Tri Buana Tungga Dewi Jayawisnuwardhani dan keluarga Raja yang tergabung dalam Dewan Raja Ri Wilwatikta yaitu :

– RaTu Tri Buana Tungga Dewi (Ibunda Raja) yang sekaligus menjabat sebagai Bhre Kahuripan.
– Kertawardhana (Ayah Raja) yang menjabat sebagai Bhre Tumapel.
– Raja Dewi Maharajasa (Bibi Raja) yang menjabat sebagai Bhre Daha.
– Wijaya Rajasa (Suami Raja Dewi) yang menjabat sebagai Bhre Wengker.
– Rajasa Duhita Iswara (Adik Raja) yang menjabat sebagai Bhre Pajang.
– Singhawardhana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan.
– Rajasawardhana yang menjabat sebagai Bhre Matahun.
Rapat tertutup berjalan mulus tanpa ada deadlock, dan diputuskan penyatuan negeri Sunda kedalam Imperium Majapahit adalah dengan langkah diplomasi perkawinan Maharaja Rajasanegara dengan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi.
Dengan mengambil putri sunda sebagai permaisuri Maharaja Majapahit diharapkan akan mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Negeri Sunda.

Sebagai duta diplomasi untuk melamar putri sunda maka dipilihlah sosok negosiator ulung yang harum manis tutur katanya……, maka pilihan jatuh kepada Patih Madu, seorang motivator Kerajaan Majapahit yang sudah tidak diragukan lagi kehandalannya dalam mengolah tutur kata menjadi madu yang manis………, dan untuk itu sebelum berangkat ke Negeri Sunda beliau dianugerahi piandel Keris Pusaka Kyai Carito Buntolo sebagai Lambang Duta Raja yang sah.

Atas restu dari RaTu Tri Buana Tungga Dewi Jayawisnuwardhani dan Dewan Raja akhirnya berangkatlah duta Negeri Majapahit dibawah kendali Patih Madu beserta para pembesar yang didampingi Pasukan Khusus Wilwatikta dibawah kendali Intelejen Pusat Wilwatikta yang dikordinir Dyah Mahesa Pawagal, seorang intelejen senior yang terkenal cerdik dan sakti serta sudah kenyang makan asam garam sejak Majapahit masih digoyang intrik politik dalam negeri pada awal-awal berdirinya.

Rombongan duta pengantar surat lamaran, yang juga terselip buku kecil tentang ayat-ayat cinta untuk Dyah Pitaloka Citraresmi diterima dengan suka cita oleh Raja Lingga Buana dan Permaisuri Kerajaan Sunda, mungkin inilah saat paling tepat yang ditunggu-tunggu……!!!.

Imperium Majapahit dan Negeri Sunda sebetulnya mempunyai pertalian darah yang erat, mengingat pendiri Majapahit yaitu Joko Sesuruh yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana adalah mempunyai garis keturunan dari Raja Sunda Guru Dharmasiksa, begitu juga Dyah Pitaloka Citraresmi juga mempunyai alur garis keturunan yang jelas sama……., untuk itu ini adalah waktu yang tepat untuk mempersatukan kembali rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua kerajaan tersebut tanpa adanya invasi kekuasaan.

Singkat tapi pasti lamaran Maharaja Hayam Wuruk untuk mengambil Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai permaisuri diterima, meskipun ada keberatan dari Dewan Kerajaan Negeri Sunda, terutama dari adik Prabu Lingga Buana yaitu Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati….., ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidaklah lazim untuk pengantin wanita datang kepada pihak pengantin laki-laki, tetapi karena status Majapahit adalah sebuah Imperium dan terdorong rasa persaudaraan yang sudah ada dari leluhur dua kerajaan maka disepakati secara tertulis, upacara pernikahan akan dilangsungkan di Istana Wilwatikta pada bulan badra Tahun Saka 1279 (1357 Masehi)…., nantinya rombongan pengantin wanita akan datang ke Majapahit dan Maharaja Prabu Hayam Wuruk sendiri yang nanti akan menjemputnya di Lapangan Bubat……!!!.

Akankah pernikahan Maharaja Prabu Hayam Wuruk dengan Putri Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi akan menjadi pesta perkawinan terbesar dalam sejarah kerajaan-kerajaan se-Nusantara……???.
Maharaja Dyah Hayam Wuruk tersenyum penuh pengharapan…………!!!.

Alkisah berangkatlah Rombongan keluarga Kerajaan Sunda menuju kearah timur pada hari kesepuluh bulan badra Tahun Saka 1279 (1357 masehi), terdiri dari 97 orang yang dipimpin langsung oleh Prabu Lingga Buana, sementara Niskala Wastu Kencana (Adik Dyah Pitaloka Citraresmi) tidak diajak karena usianya masih 9 Tahun, maka ia tetap tinggal di Istana Surawisesa bersama pamannya Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang ditugaskan untuk mengurusi pemerintahan pengganti sementara.


Rombongan ini bertujuan mempertemukan Sang Putri Dyah Pitaloka Citraresmi dengan Maharaja Hayam Wuruk dalam rencana pernikahan agung yang akan digelar di Istana majapahit….., setelah 7 hari perjalanan sampailah di suatu tempat yang telah ditentukan yaitu Lapangan Bubat, maka rombongan Kerajaan Sunda mendirikan tenda-tenda darurat untuk beristirahat, yang kemudian mengirim penghubung ke pihak Majapahit agar segera menjemput rombongan yang kini tengah beristirahat.

Mahapatih Gaiah Mada yang mendengar tentang kedatangan utusan Dyah Pitaloka beserta keluarga Kerajaan Sunda yang sedang beristirahat di Lapangan Bubat menunggu turunnya Maharaja Hayam Wuruk segera masuk dan berbicara menyampaikan maksudnya kepada Sang Raja, demi keluhuran negara atas sumpahnya beranggapan bila turunnya Sang Maharaja Hayam Wuruk menjemput Putri Sunda akan menurunkan martabat, dan sebaiknya rombongan tersebut tidak usah dijemput dan sekaligus putri tersebut tidak dijadikan sebagai prameswari, namun dijadikan sebagai upeti yang menyatakan bahwa Kerajaan Sunda tunduk kepada Imperium Majapahit karena memang tinggal Kerajaan Sunda saja yang belum dikuasai Majapahit untuk memenuhi Sumpah Palapa yang telah diikrarkannya……!!!.

Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Mahapatih Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya, namun Mahapatih Gajah Mada tetap pada keputusannya…….!!!.

Maharaja Hayam Wuruk merasa terpukul dan marah……., tetapi belum bisa memberi keputusan karena kalau menghalangi Gajah Mada berarti tidak menghargai kerja kerasnya dalam mewujutkan sumpahnya, padahal dengan Sumpah Amukti Palapa inilah awal kejayaan Nusantara ,yang mana Majapahit tumbuh menjadi Imperium yang menguasai hampir seluruh Nusantara dan sebagian Asia Tenggara serta menjadi salah satu kerajaan yang paling disegani didunia…….!!!.

Akhirnya sang penghubung kembali ke Lapangan Bubat dan menyampaikan berita tersebut kepada Prabu Lingga Buana bahwa Putri Dyah Pitaloka harus dijadikan upeti sebagai tanda tunduknya Kerajaan Sunda terhadap Imperium Majapahit, maka dengan demikian pantas bila datang menghadap Maharaja Prabu Hayam Wuruk…….., mendengar penjelasan tersebut Prabu Lingga Buana terkejut, dada seperti dipukul dan segera memerintahkan prajuritnya yang sedikit untuk siap bila kemungkinan perang terjadi untuk mempertahankan harga diri, daripada diinjak-injak harga dirinya oleh Kerajaan Majapahit.

Maharaja Prabu Hayam Wuruk belum memberikan keputusan, tetapi Mahapatih Gajah Mada tidak menghiraukannya dan sudah mengerahkan pasukan mengepung Pesanggrahan Bubat dan mengancam Prabu Lingga Buana untuk mengakui Superioritas Imperium Majapahit…………, Prabu Lingga Buana bermaksud menyerahkan Sang Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, tetapi para kerabatnya menolak mentah-mentah dan bersedia mati di Lapangan Bubat bila terjadi perang, kesanggupan para menak inilah yang membangkitkan semangat juang, para pemimpin Sunda naik darah demi mempertahankan kehotmatan sebagai ksatria Sunda.

Akhirnya perang tidak bisa terhindarkan lagi………., semua rombongan Sunda bersorak menyerang ke segala jurusan, tetapi dapat dengan mudah ditangkis oleh pasukan Majapahit yang jumlahnya besar, ganti para mantri araraman berkuda menyerbu, dan dalam sekali gebrakan prajurit Sunda berantakan dan puluhan nyawa melayang bagaikan rumput disambar oleh halilintar…….!!!.
Sekarang tinggallah Prabu Lingga Buana dan Putrinya dengan ditemani 3 pengasuhnya, Prabu Lingga Buana segera turun ke medan pertempuran dikeroyok pasukan Majapahit…, tetapi Mahapatih Gajah Mada segera turun dari pedati lalu dengan melompati mayat-mayat tentara Sunda yang bergelimpangan berteriak dengan suara menggelegar : ”Mundur semua………..!!!”.
Prajurit Majapahit yang mengeroyok Prabu Lingga Buana serta merta berloncatan menjauh kepinggir lapangan dan kericuhanpun perlahan-lahan redam……………..!!!.

Lapangan Bubat kembali dibekap kesunyian……, kini Mahapatih Gajah Mada berhadapan dengan Prabu Lingga Buana, dan Dyah Pitaloka berdiri dibelakang ayahnya dipeluk oleh 3 (tiga) pengasuhnya yang sudah terkuras air matanya…..!!!.
Para prajurit Majapahit duduk rapi dipinggir menonton 2 (dua) pria perkasa yang saling berhadapan hanya berjarak lima langkah, dan akhirnya kedua pria perkasa itu memulai percakapan :

– Prabu Lingga Buana : ”Ehem…..inikah rupanya Mahapatih Gajah Mada yang perkasa dan termasyur dimana-mana….”
+ Mahapatih Gajah Mada : Sambil menghela nafas, “Marilah prabu Lingga Buana, tak usah kita teruskan pertumpahan darah ini, mari ikut saya ke Istana Wilwatikta, Sri Maharaja Hayam Wuruk sudah menunggu kedatangan calon permaisurinya…..!!!
– Prabu Lingga Buana : Bukankah Maharaja Hayam Wuruk yang mestinya menjemput kesini sesuai perjanjian…..??
+ Mahapatih Gajah Mada : Sudahlah Sang Prabu……, bukankah yang penting pesta pernikahan tetap terjadi…?
– Prabu Lingga Buana : Tidak ada lagi pesta pernikahan Gajah Mada…..!!!
+ Mahapatih Gajah Mada : Hei……., mengapa ???
– Prabu Lingga Buana : Dengar Gajah Mada…., kami sudah melanggar adat yang lazim di Nusantara dengan bersedia membawa Putriku datang ke Majapahit, dan sekarang setelah Maharaja Prabu Hayam Wuruk mengingkari janjinya sendiri yang tertulis dilontar untuk menjemput rombongan kami di Lapangan Bubat, lalu pengkianatan Ki Patih sendiri yang meminta kami menyerahkan Putriku Dyah pitaloka Citraresmi sebagai upeti, serta kemudian setelah semua ksatria Sunda gugur sebagai pahlawan……., lalu dimana nurani kami sebagai raja kalau lantas menerima ajakan Ki Patih menuju Majapahit….???
Bukankah aku lebih nista dari pengecut yang paling hina…..!!!
+ Mahapatih Gajah Mada : Lantas apa kehendak Prabu Lingga Buana ??????
– Prabu Lingga Buana : Kita tuntaska secara ksatria antara engkau dan aku ki Patih…..!!!!
+ Mahapatih Gajah Mada : Ah…., kita sudah sama-sama tua Baginda Prabu….!,
Bukankah lebih baik kita melupakan semua yang pernah terjadi ?, lalu memulai kehidupan baru…, saling berdampingan dengan damai antara Negeri Majapahit dengan Negeri Sunda…!!!
– Prabu Lingga Buana : ”Setelah semua penghinaan dan pembantaian ini….????, tidak Ki Mahapatih…., tak usah lagi mengumbar kata-kata manis berbisa, semua ksatria kami telah menumpahkan darahnya demi kehormatan Negeri kami dan aku sangat bangga karenanya…..!!!”
+ Mahapatih Gajah Mada terdiam…… : Tapi kini kemarahan mulai merayap seperti lidah api dan matanya memancarkan bara, “Apa boleh buat…!”, pikir Mahapatih Gajah Mada bagaikan gajah yang mau lepas dari ikatan…….!?!?.
– Prabu Lingga Buana membalas tatapan Mahapatih Gajah Mada dengan sorot mata yang tak kalah membara, dengan jemari tetap menggenggam Hulu Kujang berlubang 7 (Tujuh) bermatakan berlian yang sudah memerah darah, rupanya sudah tidak sabar lagi untuk menuntaskan pertarungan satu lawan satu…………!?!?.

Haruskah Mahapatih Gajah Mada butuh tumbal untuk bisa Amukti Palapa……..?????.

To be cont…../Bersambung……..,,,

Salam Budaya………., Salam Nusantara………..!!!.

2 responses to “Tragedi Perang Bubat

  1. Lebih baik kalah terhormat daripada menang dengan cara licik, tak mampu menahan nafsu dan ambisi, cara apapun dilakukan. Keturunan sunda akan terus menjaga adat dan martabatnya, meneruskan kehormatan para leluhur.

  2. Perang bubat dimunculkan oleh Belanda saat perang dengan Pangeran Diponegoro. Mereka tdk mau perang tsb justru mempersatukan pulau jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s