RATU LAUT KIDUL ADALAH NUSANTARA

Oleh: Lucky Hendrawan

Sampurasun,
Seperti biasanya… catatan saya selalu ‘berseberangan’ dengan pemahaman umum…🙂 jadi anggap saja sebagai anti-thesis atau alternatif sudut pandang sejarah Nusantara
Hal ini saya lakukan karena ketidak-percayaan saya terhadap peristiwa sejarah di Ibu Pertiwi tercinta ini, yang dibuktikan oleh semakin merosotnya rasa nasionalisme kita serta meruncingnya perpecahan antar“ras” dan “agama” di lingkungan masyarakat Indonesia… bagi saya “sejarah itu harus berkelanjutan dan bersifat logis-sistematis” maka, jika ada yang tidak enak dibaca (TIDAK LOGIS) sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Konflik sosial yang ditandai oleh sebutan “orang Jawa” dan “orang Sunda” ataupun sebutan“orang Majapahit” dan “orang Pajajaran” hingga saat ini masih terus bergulir, ketajaman fenomena tersebut dipicu oleh “Tragedi Bubat” yang mengisahkan pembantaian 70 orang berstatus RAMA (sesepuh / kelompok spiritual) dari 70 Kabuyutan (tempat suci) di Jawa Barat (Pa-Ra-Hyang) yang dipimpin oleh Hyang Linggabuana. Salah-satu tugas RAMA pada masa itu adalah melantik para DATU (raja kecil) dan RATU (Maharaja).
Tri-Su-La Naga-Ra
Pembantaian para RAMA itu dilakukan oleh Gan Eng Cu (Gajah Mada) seorang patih dari Kahuripan, secara politis dan strategi perang Gan Eng Cu bertugas menggagalkan pelantikan Maharaja Nusantara yang sedianya akan dijabat oleh Hayam Wuruk. Hal ini ditandai dengan direbutnya Pataka Nusantara yanber bernama Citra (cap) Resmi (sah) Dyah (pengukuhan) Pita(pengikat / pemersatu) Loka (wilayah), yaitu Tanda Lambang Penguasa Persatuan Ibu Pertiwi (*dalam bahasa asingnya adalah STATUES SYMBOL OF UNITED KINGDOM :)
*** Patut dipahami bahwa; hasil pelantikan Maharaja Nusantara itu (kelak) harus diberitakan / disebar-luaskan ke seluruh DUNIA, sebab berkaitan erat dengan bermacam perjanjian (multilateral ataupun bilateral); baik itu menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial serta ketatanegaraan lainnya di seluruh dunia yang berhubungan dengan Maharaja Nusantara pada waktu itu.
Selanjutnya setelah “Lambang Penguasa Ibu Pertiwi” itu dapat direbut oleh Gan Eng Cu lalu kita mendengar tentang Sumpah PALAPA, konon isinya bahwa Gajah Mada akan mempersatukan Nusantara… hehehe… ini jelas mustahil, sebab pada waktu itu Keraton Nusantara sedang giat-giatnya digempur oleh pasukan Cina Utara / bangsa Mongol (pasukan perang Islam), baik gempuran militer, ideologi, religi, ekonomi, politik, dll…. singkatnya, yang disebut Bumi Nusantara pada saat itu secara devacto hanya tinggal sebesar Pulo Jawa dan Bali… sebab hampir seluruh Kedatuan (Kedaton) di Nusantara telah dikuasai musuh, ditandai dengan berobahnya gelar DATUK menjadiSULTAN, seperti yang terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dst.
Dengan Gan Eng Cu menguasa lambang United Kingdom of Nusantara, maka Hayam Wuruk tidak dapat dianggap sebagai Maharaja (Ratu) Nusantara dan sudah tentu Gan Eng Cu (Gajah Mada) dapat berbicara apapun dengan dalih MEMPERSATUKAN NUSANTARA yang sebenarnya adalahMENGUASAI BUMI NUSANTARA di bawah kekaisaran Cina.
Peta Serangan Pasukan Mongol (Nasional Geografi)
Ungkapan atas ‘gugur’-nya Citra Resmi Dyah Pita Loka merupakan siloka atas keruntuhanKemaharajaan (RATU) Nusantara atau hilangnya kedaulatan Nusantara di bawah kekuasaan pasukan Cina Utara / Mongol yang menganut ajaran Islam. Sejak itulah ajaran Islam mulai menyebar keberbagai pelosok Nusantara, khususnya di pulo Jawa. Kejadian ini pun ditandai dengan adanya Wali Sanga (9 Wali) yang seluruhnya bangsa Cina Utara, seperti; Bong Swie Ho, Bong Ta Keng, Gan Si Ciang, Jat Tik Su, Tan Eng Hoat, Kin San, dll.
Di daratan nusa Jawa, hubungan antara kewilayahan RAMA (Jawa Barat) dengan RATU (Jawa Timur) otomatis berhasil dilumpuhkan (pada saat itu Jawa Tengah belum ada). Artinya, wilayah sakral(Kabuyutan agung / Pa-Ra-Hyang) yang berisi para sesepuh / kokolot penjaga ajaran SUNDA (Matahari) sama sekali tidak dapat berbuat banyak sebab isinya hanya kakek-kakek(para Guru Besar), tidak memiliki pasukan perang. Dilain pihak wilayah Jawa Timur sebagai pusat pemerintahan Nusantara sudah dilumpuhkan.
Ketika Jawa Timur (RATU) sudah LUMPUH maka Ibu Kota Nusantara terpaksa dipindahkan ke Jawa Barat (RAMA), artinya RAMA dan RATU bersatu pada sebuah wilayah (Pakuwuan Pajajaran), maka secara prinsip Bumi Nusantara itu tersisa hanya tinggal sebesar Jawa Barat saja… lalu gempuran PENUTUP dan TERAKHIR dilakukan oleh pasukan Islam dengan mengepung wilayah Jawa Barat melalui pengerahan pasukan perang dari Kasultanan Cirebon serta Kasultanan Banten… dan Kemaharajaan Nusantara (Pajajaran Nagara) berkahir di Talaga (Kuningan)…. boleh jadiLaksamana Laut Ma Ceng Ho datang sebagai pasukan khusus “untuk membersihkan sisa pasukan Pajajaran Nagara yang masih setia dan untuk memastikan runtuhnyaKemaharajaan Nusantara.
Setelah peristiwa Pajajaran Nagara Runtag di Talaga, maka terhapus pula nama NUSANTARA dari peta dunia dan selama 300 tahun lebih negara kita TIDAK BERNAMA… hingga suatu saat orang-orang barat menyebutnya sebagai “Kepulauan India Kecil” (Indu Nesia), hingga kelak oleh Ki Hajar Dewantara mengukuhkan menjadi INDONESIA.
Kemaritiman Nusantara secara prinsip dilumpuhkan oleh Raden Patah (Jin Bun) dengan menguasaipusat galangan kapal terbesar se-Asia Tenggara yaitu DEMAK. Memutuskan hubungan antar pulau (jalur perahu) atau jalur ke luar pulo Jawa menjadi sangat efektif sehingga Ibu Kota Nusantara tidak bisa mendapat bantuan dari sekutunya (Thailand, Vietnam, Kamboja, dst) pun kesulitan bagi pasukan maritim Inggris Raya… (*boleh jadi itu sebabnya Singapura dan Malaysia diambil alih oleh Inggris sedangkan Nusantara pada waktu itu seolah-olah dilewati begitu saja)… atau karena Eropa sedang memasuki masa Renaissance (?). (*patut diingat, pada abad 17 kerajaan Inggris mengirim VOC dari India untuk membantu urusan perdagangan di bekas Kemaharajaan Nusantara).
Inggris sebagai ‘pewaris’ kejayaan negeri maritim Nusantara
Berdasarkan sejarah, bangsa Viking (bangsa Utara) merupakan leluhur bangsa-bangsa di Eropa dan dikemudian hari mereka bergabung dalam persatuanBRITANIA RAYA atau sering disebut UNITED KINGDOM yang dipimpin oleh Inggris. Dilain pihak sejak jaman awal hingga sebelum gempuran musuh masuk ke Nusantara, negara kita ini merupakan negara ADIDAYA yang menguasai Samudra di belahan Bumi bagian Selatan, itu sebabnya negeri kita disebut sebagai KEMAHARAJAAN MARITIM (RATU SAMODRA) dan bangsa Indonesia lebih akrab menyebutnya sebagai RATU LAUT KIDUL.
Begitulah kisah DUA KEMAHARAJAAN MARITIM YANG DULU MENGUASAI DUNIA…
Britania Raya hingga saat ini masih berdiri tegak dengan kemakmurannya, bahkan mata uang mereka berada pada posisi yang tinggi… ironis… di wilayah bekas Pajajaran Nagara (Nusantara) ini kita masih sibuk dengan hal-hal kecil seperti “kesukuan, ras, keagamaan, keekonomian… dan sebagainya”…. Apakah ini semua DAMPAK…??? atau sebenarnya SERANGAN ITU MASIH BERLANGSUNG namun dengan ‘baju’ yang berbeda…??? dan kita putra-putri pewaris Nusantara tidak menyadarinya.
*** jika paparan di atas ada yang tidak logis, dengan rendah hati saya mohon bantuan untuk mengkoreksinya… Hatur Nuhun… hal ini semata demi “KEMERDEKAAN & KEDAULATAN ATAS SEJARAH DAN ILMU PENGETAHUAN DI NEGERI SENDIRI…!”
Neda Hampura Sapapanjangna
Rahayu Salawasna
_/|\_ Hung Ahuuung.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s